Saya sampaikan dengan lembut bahwa ibu perlu kontrol rutin karena usia segini masuk kategori kehamilan risiko tinggi.
Risikonya apa saja?
Saya jelaskan pelan-pelan, tekanan darah bisa naik, bisa kena gula selama hamil, bisa lahir prematur, bahkan ada risiko janin mengalami kelainan kromosom, salah satunya yang sering terjadi adalah Down syndrome.
Waktu berlalu.
Sebulan kemudian mereka datang lagi untuk kontrol. Pemeriksaan USG lanjut menunjukkan tanda yang saya khawatirkan sejak awal. Saya tarik napas sebelum bicara.
“Ibu, dari hasil pemeriksaan ini, kemungkinan besar janinnya mengalami Down syndrome.”
- XLSMART Gelontorkan Rp200 Juta, 33 Ribu UMKM Perempuan Berebut Modal Pintar 2026
- Ulama dan Umara: Dua Pilar Peradaban untuk Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter
- Pemkot Makassar Bentuk Tim ATS, Jemput Anak Putus Sekolah Kembali Belajar
- Di Balik Sekop Sang Komandan, Mengukir Jalan Kesejahteraan untuk Rakyat di Jeneponto
- Mubes IKA Unhas Berakhir Riang Gembira, MRR : Berlangsung Tertib Tidak Ada Ricuh, Terima Kasih Semuanya
Ibu itu terdiam bingung. Cemas. Sang suami memegang tangannya erat. Lalu berkata, “Nda pa-apa, Bu. Anak itu titipan Allah. Mau seperti apa, tetap kita terima.”
Saya menelan haru. Dan saya jelaskan dengan bahasa yang sederhana.
“Down syndrome itu semacam kelebihan kromosom. Kalau orang biasa punya sepasang kromosom 21, anak Down syndrome punya tiga. Jadi tumbuh kembangnya beda. Tapi bukan berarti dia nda bisa bahagia.”
Saya menjelaskan ciri-ciri fisiknya
Biasanya anak-anak Down syndrome punya wajah khas matanya agak sipit dengan jarak agak lebar, hidungnya kecil, lidahnya suka keluar, dan telinganya lebih kecil dari biasanya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
