Tangannya mungil, dan garis telapak tangannya cuma satu. Badannya mungkin agak lemas, dan belajarnya butuh waktu lebih lama.
Tapi saya tambahkan, “Kalau sejak kecil dibimbing, banyak kok anak-anak Down syndrome yang bisa sekolah, bahkan kerja dan hidup mandiri.
Bahkan cukup banyak yang berprestasi, asalkan kita memberikan motivasi dan stimulus yang tepat”
Waktu berlalu, hingga hari persalinan tiba. Ibu itu menahan nyeri luar biasa, tapi tetap tegar. Lalu lahirlah seorang bayi perempuan mungil, beratnya 2800 gram.
Wajahnya manis, dengan ciri khas Down syndrome yang saya sebutkan sebelumnya. Tapi tatapan matanya teduh, damai. Seolah membawa pesan dari langit.
- XLSMART Gelontorkan Rp200 Juta, 33 Ribu UMKM Perempuan Berebut Modal Pintar 2026
- Ulama dan Umara: Dua Pilar Peradaban untuk Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter
- Pemkot Makassar Bentuk Tim ATS, Jemput Anak Putus Sekolah Kembali Belajar
- Di Balik Sekop Sang Komandan, Mengukir Jalan Kesejahteraan untuk Rakyat di Jeneponto
- Mubes IKA Unhas Berakhir Riang Gembira, MRR : Berlangsung Tertib Tidak Ada Ricuh, Terima Kasih Semuanya
“Selamat ya, Bu. Perempuan, sesuai doa,” kata saya sambil meletakkannya di dada sang ibu.
Air mata pun jatuh. Tapi bukan tangisan sedih. Tangisan ikhlas. Mereka menerima, tanpa tanya kenapa.
“Kalau Allah sudah kasih, pasti Allah yang jaga,” kata ibunya lirih.
Saya belajar banyak dari mereka. Tentang sabar. Tentang menerima takdir. Tentang ikhlas, bukan sekadar pasrah, tapi tetap berjuang memberi yang terbaik.
Surah Az-Zumar ayat 10
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
