Keindahan dan Inovasi Sarung Sutra Mandar di Era Fashion Modern

Keindahan dan Inovasi Sarung Sutra Mandar di Era Fashion Modern

FD
Fachri Djaman

Penulis

Dalam seni tenun sutra Indonesia, motif menjadi cerminan kaya budaya dan keberagaman. Berbeda dengan kotak-kotak yang lebih kecil dan bervariasi, motif kembang bunga sape’ menarik perhatian dengan pesan uniknya. Kembang yang layu dalam motif ini menciptakan keindahan melalui keadaan yang tak selalu mekar, menggambarkan kehidupan dengan segala nuansanya. Sutra menjadi kanvas indah bagi tradisi ini, di Sulawesi Barat, sebagai ciri khas yang memperkaya sejarah tenun Indonesia.

“Kalo kita (kain tenun mandar), lebih ke bunga sape’ ada kayak motif kembang bunga sape’ artinya itu kembang yang layu, jadi motifnya dia tidak Mekarki tapi layu ke bawah, makanya itu yang menjadi ciri khas utama dan penanda juga,” tutur Ahwy, desainer muda yang bergelut di bidang staylish dan make over itu.

Menurut Wawan seorang ahli tenun , dalam riset “Kajian Proses Pembuatan Motif Tradisional Sarung Sutra Mandar Menggunakan Alat Tenun Berbasis Manual (ATBM),” ada sebelas motif sarung sutra Mandar, seperti sure’ penghulu, sure’ mara’dia, dan lainnya.

Motif ini tidak hanya sebatas estetika visual, melainkan mengandung makna filosofis dalam hubungan sosial dan budaya masyarakat Mandar. Garis vertikal mencerminkan hubungan antara pemimpin dan rakyatnya, sedangkan garis horizontal mencerminkan hubungan antar-rakyat.

Keindahan sarung sutra Mandar tidak hanya terletak pada motifnya, tetapi juga pada proses pembuatannya. Proses yang memakan waktu dua hingga tiga minggu per helainya melibatkan tahapan-tahapan seperti pemilihan benang, pewarnaan dari bahan alam dan kimia, hingga tahap menenun. Keahlian para pengrajin dalam melestarikan teknik tenun tradisional sangat memengaruhi kualitas akhir dari Lipa Saqbe Mandar.

Kesenian sutra Mandar, yang telah melewati zaman, kini bertransformasi menjadi fashion modern yang merayakan nilai-nilai budaya. Melalui perbincangan dengan para pelaku utama di belakang perubahan ini, mari kita telusuri perjalanan setiap tenunan sutra mandar yang diberikan sentuhan inovasi dari tangan kreatif.

Mengadaptasi motif kembang bunga sape’ yang khas, Samboyang Galery di Polewali, tempat penghasil kerajinan hasil tenunan, merintis inovasi dengan menciptakan pakaian yang lebih trendi dan fashion-forward.

Menyadari perubahan selera anak muda, mereka menghadirkan kain tenun sutra dalam bentuk baju yang menggabungkan tradisi dengan gaya modern, menawarkan pilihan yang lebih bervariasi dan menarik. Dengan langkah ini, mereka berharap kain tenun sutra Mandar tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga meraih perhatian dan apresiasi generasi muda yang semakin berkembang.

“Seiring perkembangannya zaman, itu kain tenun tidak terlalu diminati mi anak-anak sekarang, makanya kita coba buat inovasi yang lain biar di lirik. Jadi kita buat lebih trand dan lebih fashion. Kita (Pengelola Samboyang Galery), buat modifikasi seperti baju yang lebih trend agar anak muda itu melirik begitu. Orang cuma taunya itu kain tenun dibuat sarung nanti kita buat kayak baju produk-produk lain, biar lebih diminati oleh generasi muda,” jelas Awhy.

Awhy Syahreza, seorang Staylish dan Desainer muda dari Polewali Mandar, membuka tirai inspirasinya dalam menggabungkan unsur tradisional tenun sutra Mandar ke dalam desain busana modern sebagai pelestarian peninggalan nenek moyang.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.