Terkini.id, Jakarta – Pasca pencopoton Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Publik banyak menyoroti Kementerian Agama akibat kebijakan yang dibuatnya.
Seperti yang diungkap mantan dirjen bimas Buddha, Caliadi menyatakan masyarakat bertanya-tanya kenapa semua dirjen “non” disapu bersih oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Merespon itu pihak Kemenag membantah telah berbuat diskriminasi pada pencopotan tersebut.
Sekretaris Jenderal Kemenag, Nizar Ali menegaskan keputusan Yaqut mencabut jabatan enam pejabat Eselon 1 Kemenag demi penyegaran di dalam organisasi. Sepanjang pemahamannya, mutasi merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan instansinya.
“Sudah saya sampaikan alasan adalah penyegaran. Pemberhentian dan mutasi adalah hal biasa dalam organisasi,” ujarnya Kamis 23 Desember 2021.
Dilansir dari detik.com Nizar mengatakan tiap menteri tidak menyampaikan secara detail alasannya memberhentikan seseorang dari jabatannya. Meski demikian ia yakin Yaqut tidak melakukannya dengan sewenang-wenang. Pasti telah melalui pertimbangan yang matang.
“Semua menteri ketika memberhentikan tidak pernah menyampaikan alasan atau pertimbangan. Pertimbangan pasti ada, tidak mungkin semena-mana. Sekali lagi, bukan untuk konsumsi publik dan juga yang bersangkutan,” ulas Nizam.
Berdasarkan regulasi tidak ada kewajiban pejabat pembina kepegawaian harus mengumumkan ke publik alasan yang spesifik.
Namun, Nizar persilahkan jika pejabat yang dicopot itu tidak terima dan ingin mengajukan gugatan. Tapi dia yakin kebijakan lembaganya untuk kepentingan bersama bukan kepentingan individu.
“Silakan menggugat. Karena itu hak perseorang. Dan dalam statement saya, pemberhentian, mutasi promosi semata-mata untuk kepentingan organisasi, bukan kepentingan orang per orang atau kelompok,” kata Nizar.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
