Terkini.id, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menjawab tudingan sejumlah pihak yang kerap menyebutnya sebagai gubernur ekstrim. Terkait hal itu, ia pun tidak membantah.
Menurut Anies Baswedan, dirinya tidak membantah tudingan tersebut lantaran ia memilih untuk membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar.
Hal itu disampaikan Anies Baswedan saat tampil di podcast kanal YouTube Deddy Corbuzier, seperti dilihat pada Selasa 30 November 2021.
Awalnya, Anies menjawab pertanyaan Deddy soal tudingan tersebut. Ia pun menjawab, bahwa bukan tugas dia membuktikan dia bukan seorang gubernur ekstrim.
Justru sebaliknya, kata Anies, yang menudingnya itu yang punya kewajiban untuk membuktikan apakah memang dia ekstrim atau tidak.
- Ahok Tanggapi PDIP Usung Anies di Pilgub DKI Jakarta
- Rocky Gerung Saran ke Anies Untuk Tak Maju Dalam Pilgub Jakarta
- KPU Resmi Umumkan Pemenang Pilpres 2024, Anies Baswedan: Kita Dukung Langkah Tim Hukum!
- Anies Baswedan Sebut Kabar Dirinya Maju di Pilgub Hanya Pengalihan Isu
- Cek Fakta: Benarkah Relawan Anies Baswedan Temukan Kotak Suara Tak Tersegel di Kota Makassar?
“Kalau saya dianggap Gubernur ekstrim, tidak menghormati agama lain dan tidak menghargai minoritas dulu saya tidak bisa menjawab, karena jika saya jawab (4 tahun lalu saat masih jadi cagub) tidak ada buktinya. Sekarang setelah 4 tahun, saya tidak membantah saya akan membuktikannya saja dimana bukti tudingan itu. Kalau tidak ada, batalin dong itu tuduhannya,” ujar Anies Baswedan.
Ia pun lantas menjelaskan, ekstrimisme ada dalam banyak urusan dan salah satu cara menghadapi ekstrimisme adalah kemampuan berpikir kritis.
“Ini sebagai pembenteng dalam menghadapi ekstrimisme dan menolaknya, karena dalam semua urusan kita akan berpotensi bertemu dengan pandangan yang ekstrim ini,” tuturnya.
Mengutip Hops.id, Anies Baswedan juga pada dua bulan lalu mengaku selama hampir 4 tahun ini dia sengaja menolak wawancara media internasional.
Bukan tanpa sebab, Anies punya alasan menolak hal itu yakni salah satunya supaya tidak ada isu gubernur radikal di mata internasional.
Sebab, menurut mantan Menteri Pendidikan itu, isu internasional yang laku saat ini adalah soal radikalisme dan seputarnya.
“Jadi media internasional tidak tahu ide detail, tahunya isu global yang mana sekarang kan ekstrimisme, radikalisme dan konflik antaragama,” tandasnya.
Gubernur Anies Baswedan pun sudah tahu jika dia melayani wawancara media internasional selama 4 tahun ke belakang, maka isu dan tudingan yang akan muncul yakni soal ketiga isu tersebut dimana isu Jakarta akan diarahkan soal radikalisme dan isu ekstrim.
“Makanya saya tidak mau jawab tudingan soal gubernur radikal, gubernur ekstrim. Kenapa? karena cukup dijawab dengan perjalanan waktu saja,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
