Terkini.id, Makassar – Jumlah sampah elektronikdi Kota Makassar mencapai 5.651,2 ton per tahun. Pemerintah perlu melakukan upaya serius ihwal pengelolaan sampah elektronik yang lebih aman di Kota Makassar.
Hal itu berdasarkan laporan riset Save the Children berjudul Circular Geniuses membahas limbah elektronik dan ekonomi berkelanjutan yang dirilis pada Februari 2023.
Laporan riset juga memperlihatkan bahwa di Kota Makassar, tidak hanya pemulung dewasa tetapi setidaknya terdapat dua ratus pemulung anak-anak berusia antara 6-17 tahun berada pada level paling bawah di sistem limbah elektronik yakni mengumpulkan limbah tersebut.
Tak jarang dari mereka juga terlibat dalam proses pemilahan yang tidak aman seperti membakar plastik secara terbuka, membongkar komponen papan sirkuit dengan cara yang tidak aman, dan diperparah dengan tidak dilengkapi peralatan keselamatan yang tepat.
Hal ini dapat mengekspos diri mereka terhadap bahaya keselamatan dan kesehatan.
“Saya tidak ingin menjadi pemulung, tetapi ibu memaksa kami untuk bekerja di TPA agar mendapatkan uang untuk sehari-hari. Seringkali saya ikut kakak mengumpulkan sampah. Saya berharap kita semua bisa bermain dan bersekolah secara normal seperti anak-anak lain,” ujar Santi (13), pemulung usia anak.
Di Indonesia limbah elektronik mencapai 1,8 juta ton setiap tahun, hanya 10% yang dikelola dengan benar dan memiliki ijin secara resmi 90% dikelola oleh sektor informal baik individu maupun kelompok yang tidak memiliki ijin dan tidak terdaftar.
Sementara, limbah elektronik di Indonesia termasuk dalam kategori limbah berbahaya dan membutuhkan izin khusus untuk menanganinya sesuai dengan ketentuan peraturan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Chief Advocay, Campaign, Communication & Media–Save the Children Indonesia, Troy Pantouw, menegaskan tentang faktor utama penyebab anak–anak terlibat dalam pengumpulan sampah di Makassar.
“Riset kami jelas memaparkan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama orang tua memaksa anak-anak mereka bekerja sebagai pemulung. Hal ini menjadi lebih parah ketika anak-anak bekerja di sektor informal limbah elektronik, karena tentu mengancam kesehatan dan keselamatan anak-anak,” kata Troy Pantouw.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
