Terkini.id, Jakarta – Sebelumnya, Menteri Keuangan, yakni Sri Mulyani, menyebut bahwasanya keuangan Indonesia bakal sulit pada tahun 2023 mendatang.
Nah, menanggapi hal tersebut, mantan sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, akhirnya buka suara.
Dalam pernyataannya, ia memaklumi pernyataan yang diberikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengenai kondisi finansial di Indonesia.
“Saya maklumi pernyataan Ibu Menkeu bhw 2023 sangat berat,” tulis Said Didu, dikutip terkini.id via Twitter pada Senin, 31 Januari 2022.
Selain itu, Said Didu juga memberikan penjabaran penyebab sulitnya kondisi keuangan Indonesia pada 2023 nanti.
- Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono Sesal Terkait Tapera
- Benny Rhamdani Minta Sri Mulyani Tak Menunggu Aturan Relaksasi Pajak untuk Mengeluarkan 120 Barang PMI
- Pemerintahan Jokowi Habiskan Rp 2.778 Triliun Bangun Tol Hingga Bandara, Said Didu: Ini Kebohongan Publik
- Ungkap Proses Pemulihan Ekonomi, Sri Mulyani Sebut Ini Faktor Geopolitik dan Geo-ekonomi
- Isi Surat PPATK Terkait Transaksi Janggal Rp 349 Triliun Akhirnya Terbongkar, Begini Isinya
“krn 1) batas maksimum utang kembali 3% PDB – kecuali ada perpu, 2) bayar cicilan utang sangat besar, 3) biaya IKN sangat besar, 4) BI sdh diingatkan oleh IMF utk tdk “cetak” uang/ beli SUN, 5) pedapatan negara sulit naik.”
Melansir Pikiranrakyat, potensi kesulitan uang yang mungkin terjadi pada 2023 disinyalir akan menghambat Pemerintah dalam membangun ibu kota baru.
Pasalnya, dana yang digunakan untuk membiayai ibu kota baru sebanyak 53,5 persen diambil dari APBN. Sementara itu, IMF menegur BI untuk tidak mengalirkan uang lagi ke APBN.
Lalu terkait kondisi keuangan Tanah Air yang disampaikan oleh Sri Mulyani diketahui memang diunkap usai IMF (International Monetary Fund) memberikan teguran kepada BI (Bank Indonesia) untuk tidak lagi membantu dana APBN.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
