Kisah Pilu Pria yang Tiap Hari Datangi Lokasi Likuefaksi Palu, Tempat Istri dan 2 Anaknya Tertimbun

Kisah Pilu Pria yang Tiap Hari Datangi Lokasi Likuefaksi Palu, Tempat Istri dan 2 Anaknya Tertimbun

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Bencana likuefaksi dan gempa yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah, masih menyisakan getir dan duka mendalam bagi keluarga korban.

Di Kota Palu, wilayah yang paling parah terdampak likuefaksi adalah Kelurahan Petobo di Kecamatan Palu Selatan. Diyakini masih banyak jenazah warga korban likuefaksi yang tertimbun.

Hingga saat ini, setelah kurang lebih 10 bulan bencana itu, masih banyak masyarakat yang setiap hari mengunjungi lokasi likuefaksi di Petobo itu.

Hal itu misalnya dilakukan oleh Lisman alias Bucek, warga Kelurahan Petobo yang kehilangan istri dan dua anak gadisnya saat bencana likuefaksi terjadi.

Lisman yang tinggal di hunian sementara Petobo, hampir setiap hari berkunjung ke area likuefaksi tersebut.

Bukan cuma itu. Lisman bahkan sering datang dan beristirahat di lokasi yang dia yakini sebagai tempat anak dan istri tercintanya tertimbun.

“Selama satu bulan, dua hari pascabencana, saya setiap hari mencari istri dan anak. Tapi tidak juga ketemu sampai hari ini,” ujar Lisman, seperti dilansir dari tribunnewscom di area likuefaksi Petobo, Rabu 31 Juli 2019 sore.

Lisman bercerita saat bencana itu telah menelan anak dan istrinya.

Istri Lisman bernama Fatmawati, sedangkan anak pertamanya bernama Nur Ainun dan si bungsu Riski Akila. Anak pertamanya, kata dia, seharusnya sudah masuk perguruan tinggi tahun ini.

Sedangkan putri bungsunya sudah belajar di PAUD.

Pada Jumat 28 September 2018 sore, Lisman bersama keluarga sedang berada di rumah kerabat yang sedang melaksanakan sebuah hajatan.

Lokasi rumah hajatan cuma berjarak beberapa rumah dari kediaman Lisman.

Saat sebelum sebelum magrib, Lisman membeli bohlam lampu di toko yang tak jauh dari rumah hajatan.

Saat di depan toko, tiba-tiba terjadi gempa disusul likuefaksi. Hal ini memaksa Lisman harus segera mungkin menyelamatkan diri.

Tanah bergeser hingga ratusan meter menuju titik rendah, bercampur air dan bergulung-gulung seperti ombak, membuat Lisman terpisah dengan anak dan istrinya.

Dengan kemampuan yang ada, Lisman berusaha mencapai dataran yang aman dari likuefaksi.

Bersama sejumlah warga Petobo lainnya, Lisman berhasil mencapai lokasi yang aman di arah timur perkampungan Petobo tersebut.

Sekitar pukul 22.00 WITA, Lisman memaksakan diri untuk mencari anak dan istrinya. Namun, hasilnya nihil.

“Besoknya saya coba masuk cari rumah pesta (hajatan) tempat terakhir istri dan anak, tapi tidak kelihatan, habis ditelan tanah,” ungkap Lisman.

Beberapa hari pascabencana, Lisman terus melakukan pencarian terhadap istri dan anaknya, tetapi hingga kini masih belum membuahkan hasil.

Hanya kendaraan roda dua milik istrinya yang berhasil ia temukan.

Sedih yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, membuat Lisman menjadi orang yang sering menyendiri dan berdiam atau termenung.

Bahkan tidak jarang, Lisman dengan nekat tidur dan menginap di area likuefaksi Petobo.

“Hanya ini (berkunjung ke area likuifaksi) yang bisa menghibur sedikit,” cerita Lisman.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.