Komnas HAM Sebut FPI Pegang Senjata, Abu Janda: Polisi Harus Tangkap Munarman

Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial, Abu Janda menanggapi soal pernyataan Komnas HAM yang menyebut adanya kepemilikan senjata api oleh anggota Front Pembela Islam (FPI) saat kejadian baku tembak dengan polisi dalam peristiwa di Tol Cikampek-Jakarta.

Lewat cuitannya di Twitter Permadiaktivis1, Sabtu 9 Januari 2021, Abu Janda menyebut bahwa Komnas HAM sudah menyatakan adanya senjata pistol milik laskar FPI dalam peristiwa itu.

“Pertama, KomnasHAM sudah nyatakan pistol memang milik laskar FPI & ada baku tembak,” cuit Abu Janda menandai Twitter Komnas HAM.

Baca Juga: Bela Deddy Corbuzier, Abu Janda: Penghujat Gay Sama Seperti ISIS

Oleh karenanya, pria bernama lengkap Permadi Arya ini meminta kepada Polri agar segera menangkap Mantan Sekretaris FPI Munarman.

“Berarti DivHumas_Polri harus tangkap Munarman,” tegasnya menandai Twitter Polri.

Baca Juga: Sebut Indonesia Darurat Kebohongan, Habib Rizieq: Bohongnya Setinggi Langit!

Dalam cuitannya itu, Abu Janda juga mengaku heran dengan pernyataan Komnas HAM yang menyebut adanya pelanggaran HAM saat polisi melumpuhkan 4 laskar FPI yang mencoba merebut senjata petugas saat peristiwa itu terjadi.

“Kedua, polisi ditembak, bela diri lumpuhkan 2 laskar. Lalu 4 laskar coba rebut senjata, a matter to kill or be killed. Pelanggaran HAM nya dimana?,” tanya Abu Janda.

Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam membenarkan adanya kepemilikan senjata dari FPI dan pembuntutan oleh pihak kepolisian terhadap Habib Rizieq Shihab sebelum insiden baku tembak antara pengawal Rizieq dengan polisi di Tol Cikampek yang menewaskan 6 orang.

Baca Juga: Sebut Indonesia Darurat Kebohongan, Habib Rizieq: Bohongnya Setinggi Langit!

“Memang ada peristiwa pembuntutan terhadap Muhammad Habib Rizieq oleh polisi pada saat itu,” kata Choirul Anam, Jumat 8 Januari 2021 seperti dikutip dari Wartaekonomi.co.id.

Selain itu, Choirul juga menyebutkan saat pembuntutan tersebut terjadi baku tembak antara laskar FPI pengawal Rizieq Shihab dengan polisi.

Dalam baku tembak itu, kata Choirul, laskar FPI juga menggunakan senjata api.

“Substansi konteksnya merupakan peristiwa saling serempet antar mobil dan saling serang antar petugas dan laskar FPI bahkan dengan menggunakan senjata api,” jelasnya.

Choirul juga mengungkapkan konteks peristiwa lainnya yakni terjadi setelah KM 50 Tol Cikampek dimana sebanyak 4 orang laskar FPI yang masih hidup dibawa oleh polisi dan kemudian ditemukan tewas. Menurutnya, hal itu merupakan tindakan pelanggaran HAM.

“Sedangkan terkait peristiwa KM 50 ke atas, terdapat 4 orang yang masih hidup dalam penguasaan petugas resmi negara yang kemudian ditemukan tewas. Sehingga, peristiwa tersebut merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia,” ujarnya.

Bagikan