Terkini, Makassar –KONEKSI, inisiatif kolaborasi di sektor pengetahuan dan inovasi yang mendukung kemitraan antara Australia dan Indonesia, menyelenggarakan seri Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Roadshow pertama di Makassar.
Diskusi yang berlangsung selama dua hari, 19–20 Agustus 2025 ini dilakukan bersama para pemangku kepentingan ini tidak hanya mengangkat strategi ketahanan iklim yang tumbuh dari masyarakat.
Namun juga mendorong dialog interaktif untuk berbagi wawasan tentang bagaimana perspektif kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) ditumbuhkan dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.
“Kemarin kita mendengar cerita-cerita ketahanan iklim dan strategi resiliensi yang melibatkan teknologi, akses pendanaan, kesehatan, dan lainnya.
Hari ini kita bicara tentang hal-hal lebih besar yang mendasarinya karena perubahan iklim sungguh terjadi saat ini, dan berdampak ke masyarakat, khususnya kelompok rentan.
- Tumbuh Fantastis Hingga 44 Persen, BSI Cairkan Dividen Rp1,51 Triliun Hari Ini
- Asmo Sulsel Perkuat Peran dalam Pemberdayaan UMKM dan Ekosistem Komunitas
- Langkah Maju Pendidikan Jeneponto, Pemkab Luncurkan Aplikasi SPMB, Wujudkan Pelayanan yang Modern dan Transparan
- 10 Kandidat Berebut 5 Kursi Pimpinan Baznas Makassar, Wali Kota Munafri Pastikan Seleksi Transparan
- Jeneponto Perkuat Langkah Cegah Stunting, Gerakan Orang Tua Asuh dan Inovasi Barcode Peduli Resmi Diluncurkan
Maka itu, solusi yang ada perlu melibatkan mereka secara inklusif, bukan sebagai peserta atau objek penelitian, tetapi aktor terkait resiliensi iklim,” kata pendiri the Next Economy Amanda Cahill.
Salah satu praktik kolaborasi dalam perspektif GEDSI ini antara lain dimunculkan dalam penelitian “Building A Model of Future-proofing for Climate Resilience by Engaging Communities (MoFCREC) in Eastern Indonesia” yang bermitra dengan Monash University, Universitas Hasanuddin, Yayasan PerDIK, LBH APIK Sulawesi Selatan, dan berbagai institusi terkemuka di Australia dan Indonesia, serta didanai oleh KONEKSI.
Melibatkan lintas sektor termasuk akademisi, komunitas difabel, dan perempuan nelayan di pesisir Lombok, Makassar, dan Sumbawa, sejak awal desain riset ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi dari kelompok rentan dengan mencari cara-cara alternatif agar mereka bisa terlibat penuh dan memiliki makna dalam prosesnya.
“Pelibatan teman-teman disabilitas dalam penelitian kolaboratif seperti ini jadi salah satu cara agar perspektif GEDSI lebih dipahami oleh masyarakat dan suara kelompok rentan bisa didengar dalam pembangunan.
Penjangkauan kelompok disabilitas dalam riset membuka peluang akan ruang interaksi bersama, yang saat ini masih sedikit jumlahnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
