Kopel Kritisi Langkah DPRD Soal Penolakan Rancangan APBD-P

Kopel Kritisi Langkah DPRD Soal Penolakan Rancangan APBD-P

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkini.id, Makassar – Komisi Pemantau Legislatif (Kopel) mengkritisi langkah Dewan yang menolak Rancangan Anggaran Pembiayaan dan Belanja Daerah (RAPBD) Perubahan.

Hal ini justru dianggap bukan solusi dalam mendorong ekonomi seperti yang telah digalakkan presiden lewat Instruksi Presiden (Inpres)

“Kita apresiasi memang mungkin dewan mau percepat ini, cuman memang menolak juga bukan solusi,” ujar Ketua Kopel Indonesia Anwar Razak.

Razak membeberkan ada urgensi khusus mengapa anggaran perubahan harus tetap dilakukan pasalnya ada perbedaan signifikan anggaran belanja dan sejak pada parsial sebelumnya atau setelah adanya instruksi refocusing anggaran oleh pusat.

“Kondisi kuangan sangat berbeda dengan asumsi awal APBD pokok 2020 kan karena ada refokusing ada relokasi, kedua kemungkinan juga pendapatan daerah mengalami perubahan baik pendapatan dan transfer sehingga itu prasyarat kunci perubahan harus dilakukan,” ujarnya.

Baca Juga

Dia melanjutkan bahwa berdasarkan UU 23 tahun 2014, urgensi anggaran perubahan kian mendesak setelah adanya asumsi perbedaan belanja yang cukup rentan.

Menurutnya hampir seluruh daerah di Indonesia mengalami hal tersebut sehingga perubahan dianggap penting.

Meski terhitung telat yang harusnya telah masuk pada Agustus lalu menurut pedoman APBD No 6 Tahun 2020 penolakan KUA-PPAS oleh pemerintah kota sama sekali bukan jalan keluar dalam penyelesaian tersebut. Apalagi urgensi ekonomi juga kian mendesak.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.