Terkini.id, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) risau dengan keberlanjutan vaksin Merah Putih. Pasalnya, baru ini Pemerintah memberhentikan lebih 100 ilmuan dan peneliti dari Eijkman.
Karena itu, DPR meminta jaminan keberlanjutan riset Merah Putih dan pekerjaan periset usai Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman tersebut resmi dilebur ke dalam Badan Riset dan Nasional (BRIN).
“Pemerintah jangan gegabah, perlu memikirkan soal ini secara seksama. Jangan sampai program strategis yang menjadi amanat LBM Eijkman,”
“misalnya untuk mengembangkan riset Vaksin Merah Putih menjadi mandeg atau terbengkalai,” ujar Anggota Komisi VII RI Fraksi PKS, Mulyanto sebagamana dikutip dari Cnnindonesia.com.
Apalagi, menurutnya, setelah pemberhentian ilmuan dan peneliti, serta pemindahan laboratorium LBM Eijkman jauh dari Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM) akan menimbulkan masalah bagi kelanjutan riset Vaksin Merah Putih.
Menurut Mulyanto, tidak mudah mencari pengganti para ilmuwan ini dalam waktu singkat. Begitu pula posisi laboratorium yang strategis dekat rumah sakit dan fakultas kedokteran yang memudahkan akses kepada sampe, bahan, alat dan SDM medis.
“Ini akan membuat jadwal produksi Vaksin Merah Putih Eijkman semakin molor,” ujarnya.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Konsorsium Riset Covid-19 terakhir terungkap bahwa riset Vaksin Merah Putih mundur dari jadwal semula.
Pasalnya, Bio Farma tidak siap untuk memproduksi vaksin berbasis protein rekombinan mamalia dan hanya siap kalau vaksin yang dikembangkan berbasis protein rekombinan ragi (yeast).
Lebih lanjut, dari hasil kunjungan kerja Komisi VII ke Bio Farma, diketahui bahwa seed vaksin yang disiapkan Eijkman belum optimal untuk dikultivasi dan dimurnikan, sehingga perlu diteliti ulang oleh PRBM Eijkman.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno berharap BRIN tidak melalukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap peneliti LBM Eijkman.
Menurutnya, para peneliti yang ada harus ditampung di unit baru yang dibentuk di bawah BRIN, Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman.
“Sehingga kita berharap peneliti itu bisa ditampung, diakomodir di unit yang baru. Tidak ada peneliti, apalagi peneliti produktif ditinggalkan apalagi di-PHK,” ujar Eddy.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
