Bagi suporter, keputusan Tavares adalah pukulan lain. Klub kebanggaan mereka kembali terseret dalam narasi lama. Klub besar dengan prestasi, tapi rapuh dalam manajemen.
Pola Lama Liga 1
Persoalan gaji bukan monopoli PSM. Sejumlah klub Liga 1 juga kerap tersandung masalah serupa, dari tunggakan upah hingga janji bonus yang tak kunjung cair.
Fenomena ini menunjukkan rapuhnya model bisnis sepak bola Indonesia. Ketergantungan pada sponsor besar dan tiket penonton tak cukup menopang kebutuhan operasional klub.
Tanpa diversifikasi pendapatan—seperti hak siar, penjualan merchandise, atau kerja sama komersial berkelanjutan—klub mudah terguncang.
- Viral MBG Balita Berulat di Jeneponto, Kepala SPPG Klarifikasi Pengelolaan Sudah Sesuai SOP
- Coffee Morning Diskominfo Makassar Bahas Sampah, TPS 3R Karebosi Disebut Jadi Solusi Pengelolaan Sampah
- Pemkab Luwu Utara Gandeng Briton English Education, Perkuat SDM Berstandar Cambridge Menuju Daya Saing Global
- Viral Video Menu MBG Balita Diduga Berulat di Jeneponto, Warganet Minta Evaluasi
- Muktamar V Wahdah Islamiyah Akan Kukuhkan 10.000 Guru Al-Qur'an di Masjid Istiqlal
Jalan Terjal ke Depan
Bagi PSM, perpisahan dengan Tavares menyisakan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.
Siapa pengganti pelatih asal Portugal itu? Bagaimana manajemen memastikan persoalan gaji tak terulang? Dan yang lebih mendasar, bisakah klub dengan sejarah panjang membangun kultur profesionalisme yang sejajar dengan reputasinya?
Tavares mungkin sudah pergi. Namun, pesan terakhirnya menjadi peringatan keras.
Klub sebesar PSM tak bisa hanya bergantung pada sejarah dan loyalitas suporter. Di lapangan sepak bola modern, profesionalisme finansial adalah syarat utama untuk bertahan. (*)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
