Masayuki Sakakibara Kembali Ingatkan Bahaya Merkuri pada Produk Kecantikan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Tamalatea Makassar, menggelar kuliah tamu dengan tajuk "The Effect of Whitening Cream to The Human Healt Problems". Masayuki Sakakibara dari Ehime University Jepang menjadi pemateri

Terkini.id, Makassar – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Tamalatea Makassar, menggelar kuliah tamu dengan tajuk “The Effect of Whitening Cream to The Human Health Problems”.

Masayuki Sakakibara dari Ehime University Jepang menjadi pemateri. Bicara soal dampak krim pemutih yang mengandung merkuri bagi kesehatan manusia.

“Jika ingin putih harus menggunakan produk itu secara terus-menerus dan itu menyebabkan ketergantungan. Faktanya, ini adalah praktik yang terus berkembang dan telah dirangsang oleh perusahaan yang memproduksi produk-produk ini,” kata Masayuki, Minggu 17 November 2019.

Ia mengatakan, merkuri adalah bahan beracun. Dapat menyebabkan masalah kejiwaan, neurologis, dan ginjal yang serius. Wanita yang menggunakan produk ini saat hamil dapat menimbulkan kecacatan, dan kematian kepada anak dalam kandungan.

“Bahan aktif dalam krim pemutih atau pencerah kulit yang mengandung merkuri dapat menyebabkan keracunan merkuri dan itu berbahaya bagi kesehatan,” kata dia.

 

Masayuki mengatakan, iklan menghubungkan kebahagiaan dan kesuksesan serta romantisme menjadi lebih ringan.

Di Indonesia, kata dia, krim pemutih sudah populer digunakan sejak Belanda melakukan penjajahan. Saat itu, kata dia, terdapat keinginan dari masyarakat untuk mengubah warna kulit mereka menjadi putih.

“Pada saat itu ada kepercayaan bahwa Belanda adalah klan tercantik, dan kalau putih maka bisa masuk klan Belanda,” paparnya.

Merkuri juga banyak digunakan para penambang emas. Masayuki bercerita, bahwa penyebaran merkuri sangat mudah mencemari lautan. Salah satu akibatnya, kata dia, menimbulkan penyakit Minamata.

Penyakit Minamata mewabah mulai tahun 1958. Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di Kota Minamata, Jepang.

Ratusan orang mati akibat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan saraf. Para ahli kesehatan menemukan masalah yang harus segera diobati dan dicari penyebabnya.

Melalui pengamatan yang mendalam tentang gejala penyakit dan kebiasaan orang Jepang, termasuk pola makan, kemudian diambil suatu hipotesis.

Penyakit tersebut mirip orang yang keracunan logam berat (merkuri). Kemudian dari kebudayaan setempat diketahui bahwa orang Jepang mempunyai kebiasaan mengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak.

Dari hipotesis dan kebiasaan pola makan tesebut kemudian dilakukan eksperimen untuk mengetahui apakah ikan-ikan di Teluk Minamata banyak mengandung logam berat merkuri.

Kemudian disusun teori bahwa penyakit tesebut diakibatkan oleh keracunan logam merkuri yang terkandung pada ikan. Ikan tersebut mengandung merkuri akibat adanya pabrik yang membuang merkuri ke laut.

Ia mengatakan Indonesia merupakan satu dari 92 negara yang ikut dalam penandatangan awal Konvensi Minamata di Kumamoto, Jepang pada 10 Oktober 2013.

Konvensi tersebut kini telah ditandatangani 128 negara dan mulai berlaku sejak 16 Agustus 2017. Yakni 90 hari sejak diterimanya instrumen ratifikasi negara ke-50 yaitu Rumania pada 16 Mei 2017.

Pemerintah Indonesia kemudian meratifikasi Konvensi Minamata mengenai Merkuri melalui Undang-Undang No.11 Tahun 2017 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 20 September 2017.

Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI) STIK Tamalatea Muhammad Rifai mengatakan, merkuri merupakan hal penting yang mesti dipahami mahasiswa kesehatan. Paling tidak, kata dia, bisa menyampaikan informasi kepada masyarakat dampak merkuri bagi kesehatan.

“Kalau memang mau menjaga kesehatan, hindari menggunakan itu. Cantik itu resikonya tinggi karena bisa mempengaruhi otak, dan berdampak bagi bayi,” kata dia

“Yang jelas setiap krim yang bisa mengubah warna kulit besar kemungkinan mengandung merkuri,” sambungnya.

Ia menilai seyogyanya merkuri dihindari lantaran tak bisa dipastikan berapa konsentrasi yang bisa berdampak pada kesehatan.

 

“Celakalah mereka yang tidak mengetahui dampak merkuri bagi yang bekerja di pertambangan. merkuri digunakan untuk mensenyawakan logam-logam dan dianggap mudah mendapatkan emas, namun dampaknya luar biasa,” ungkapnya.

Muhammad Rifai mengatakan seharusnya ada edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat, baik sebagai pengelola tambang maupun bagi ibu rumah tangga yang bekerja di tambang sehingga bisa terhindar.

Mahasiswa STIK Tamalatea, Sally Vanya Yolanda mengaku tak menggunakan krim pemutih. Namun bagi yang menggunakan, ia mengimbau untuk berhenti.

“Efeknya baru terasa 2 sampai 3 tahun ke depan, apalagi di Indonesia banyak produk krim pemutih yang abal-abal,” kata dia.

Ia menilai kandungan merkuri dalam krim pemutih sangat berbahaya bagi perempuan yang mengandung. Namun, kata dia, pria juga banyak  yang menggunakan krim pemutih.

“Efeknya sama, menyebabkan kemerah-merahan. Bagi saya, perempuan seharusnya tampil natural saja karena cantik itu relatif,” pungkasnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Makassar

Pamor Danny Pomanto Dinilai Semakin Lemah

Terkini.id -- Pamor mantan Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto (Danny) dinilai semakin lemah dan tidak lagi menjadi pemain dominan di Pemilihan Walikota (Pilwali) Makassar