Melihat Langsung Jejak Orang Makassar di Bangkok

makkasan
Bahrul Ulum di Makkasan, Thailand

Terkini.id – Mengunjungi Bangkok sebagai ibukota negara Thailand memberikan pengalaman seru. Mulai wisata alam, budaya, kuliner, religi, dan juga sejarah.

Salah satu yang sangat menarik perhatian saya saat mengunjungi ibukota negeri gajah putih ini 22 Februari 2020. Adalah “Makkasan”, nama kawasan pemukiman, subdistrik, dan simpang susun di Bangkok, Thailand. Kawasan ini menunjukan bukti semangat merantau orang Bugis-Makassar dan juga kisah heroik di dalamnya.

Dari berbagai sumber, kata “Makkasan” berasal dari kata “Makassar” nama suku bangsa yang juga menjadi nama dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar menjadi Makkasan karena dalam bahasa Thai huruf “r” dan “l” yang berada di akhir kata diucapkan menjadi “n”. Distrik Makkasan menunjukkan terdapat hubungan yang erat  dan jejak-jejak keberadaan komunitas masyarakat Makassar masa lalu di Bangkok-Thailand.

Distrik Makkasan atau kecamatan di Bangkok ini lokasinya tidak jauh dari pusat perbelanjaan utama dan pusat lalu lintas Bangkok. Makkasan  juga nama persimpangan dan lingkungan di distrik Ratchatewi, yaitu persimpangan Mo Leng atau persimpangan Ratchaprarop,  dan yang lainnya adalah persimpangan Nhikom Makkasan. Lokasi ini salah satu daerah kemacetan paling banyak di Bangkok terutama pada jam sibuk atau jam kerja.

Di kawasan Makkasan juga menjadi komunitas muslim, utamanya dari India, Pakistan dan Bangladesh.Di kawasan Makkasan ini juga berdiri salah satu masjid terbaik di Bangkok, Masjid Naimatulislam,berlokasi di jalan Ratchathewi, tidak jauh dari kantor Kedubes republik Indonesia.

Saat ke lokasi ini, saya juga melihat langsung aktifitas perekonomian masyarakat berupa pasar tradisional yang terletak di sekitar Stasiun Makkasan.

Awal mula orang Makassar di Bangkok bermula saat mereka berimigrasi dari Sulawesi ke Siam atau Thailand, dibawa oleh rombongan Daeng Mangalle sejak periode Ayutthaya di akhir pemerintahan raja Phra Narai (1656-1688).

Orang-orang Siamese memanggil mereka dengan Khaek Makkasan yang secara harfiah berarti “tamu” karena mereka baru saja bermigrasi.

Mohammad Laica Marzuki Dalam buku “Siri’: Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-Makassar : Sebuah Telaah Filsafat Hukum” (Hasanuddin University Press, 1995), menulis, Daeng Mangalle adalah adik dari Sultan Hasanuddin meninggalkan Makassar ke Siam karena tidak terima dengan pengesahan Perjanjian Bongaya.

Selanjutnya mereka membangun pemukiman bertetangga dengan komunitas Melayu dan membangun relasi dengan reputasinya sebagai pasukan ulung.

Hubungan harmonis beragam komunitas mulai terusik dengan kehadiran Constantine Phaulkon, wakil kongsi dagang Inggris East Indies Company  di lingkar dalam kerajaan. Mereka khawatir dengan meningkatnya pengaruh Barat, dipicu dari sejumlah kebijakan seperti datangnya ratusan bala tentara Prancis dan misionaris.

Dari catatan Claude de Forbin, seorang angkatan laut dari Perancis yang tinggal di kerajaan Ayutthaya pada saat itu, menyatakan bahwa perlawanan Makkasan pada tanggal 14 Juli 1686 karena penindasan penguasa Ayutthaya dengan aristokrat asing seperti Constantine Phaulkon.

Para penguasa Ayutthaya bersama bangsawan-bangsawan asing bersusah payah menggunakan kekerasan untuk mengakhiri pemberontakan itu. Meskipun demikian, keganasan orang Makkasan selamanya membekas dalam kenangan orang Siam yang mengumpamakan mereka sebagai para Yaksa dan peristiwa ini disebut “Makkasan Rebellion”.

Bahrul Ulum 

Koordinator Konsultan PLUT

Komentar

Rekomendasi

Berita Lainnya

Taman Wisata Puncak Bila Tutup Sementara, Ini Alasannya

Wabah Covid-19, Sektor Pariwisata Kota Makassar Anjlok

Nikmati Panorama Alam Samarinda di 5 Destinasi Berikut Ini!

Yuk Berburu Foto Cantik di 5 Destinasi Instagrammable Semarang Ini

5 Kelebihan Airy Syariah ini Cocok untuk Wisata Halal di Padang

4 Tempat Wisata Kuliner Halal di Yogyakarta

Seru-Seruan Bareng Keluarga di Malang? Nih, Rekomendasi Tempatnya

Keren, Inilah Pammase Dewata, Obyek Wisata Baru di Sidrap

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar