Mengapa Montir Motor Tidak Tamat SD Bisa Bikin Pesawat ?

Chaerul Montir Motor asal Pinrang yang berhasil membuat pesawat terbang jenis ultra light

Selasa 14 Januari 2020, saya berkesempatan makan siang di salah satu rumah makan ikan bakar, Jalan Sriwijaya Kelurahan Besusu, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu.

Letaknya persis bersebelahan dengan salah satu hotel kecil melati yang asri dan baru selesai dibangun.

Bersama tiga orang staf, saya duduk pada satu meja sederhana dengan dudukan dari bangku plastik. Sambil menunggu pesanan disiapkan, saya mulai berbicara.

Kalau tidak salah usaha ini, milik Pak Amir yang hanya tamat sekolah dasar. Beliau, menurut hemat saya masuk kategori orang sukses. Karena dengan pendidikan terbatas, pendapatan per bulannya melebihi gaji dan tunjangan penghasilan pejabat eselon dua di Sulawesi Tengah.

Staf saya mengangguk-anggukan kepalanya. Memperhatikan penjelasan dengan mimik serius. Sambil sesekali menoleh ke sosok Pak Amir yang sedang membakar ikan. Ditambah lagi anaknya satu telah lulus S1 dan satunya masih pendidikan menengah atas.

Menarik untuk Anda:

Kemudian salah satu staf saya bertanya. Pak Kaban, sesungguhnya apa faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang?

Sepertinya tingkat pendidikan tidak menjamin sebuah kesuksesan seperti Pak Amir ini. Juga yang di posting Pak Kaban seorang montir motor di Pinrang yang tidak tamat SD, bernama Chairul yang berhasil membuat pesawat terbang sederhana dengan mesin penggerak bekas motor Kawasaki Ninja bertenaga 150 cc.

Saya diam sejenak menggali isi bagasi pikiran saya. Oh iya, pada pribsipnya ada tiga faktor yang membuat seseorang bisa sukses.

Pertama dia harus memiliki kapasitas sebagai observer. Kedua memiliki kapasitas sebagai desainer. Ketiga sebagai eksecutor. Ketiga kapasitas ini harus terintegrasi dan disingkat “ODE”

***

Semua tertawa mendengar singkatan ODE itu. Termasuk tetangga meja yang kebetulan teman lama, mantan awak media dan kebetulan lagi bersamaan makan di tempat itu.

Pak Amir ini meskipun kemampuan observernya terbatas, tetapi beliau telah menggunakannya. Hotel yang baru dibangun persis di sebelah rukonya ini, membuat Pak Amir mengubah usahanya yang tadinya jual sembilan bahan pokok menjadi rumah makan ikan bakar.

Dia berpikir bahwa tamu-tamu hotel paling tidak separuhnya akan makan siang dan malam di tempatnya. Kemudian perputaran dengan menjual ikan bakar jauh lebih tinggi dibanding sembilan bahan pokok.

Dari observasi tadi, Pak Amir mendesain bisnis barunya mulai dari mana saja suplai ikan, bagaimana menjaga konsistensi suplai, sampai ke pembagian tugas dengan seluruh anggota keluarga.

Hasanuddin Atjo bersama Pak Amir (Baju kuning)

***

Selanjutnya desain itu dieksekusi. Demikian pula prosesnya dengan kasus montir Chairul di Pinrang, Sulawesi Selatan dalam membuat pesawat terbang. Keberanian mengeksekusi merupakan sebuah tantangan yang harus dilewati.

Sejumlah orang sukses saya tanyakan mana yang terberat diantara tiga kapasitas itu. Hampir semuanya sepakat adalah eksekusi. Karena itu mental atau attitude kita harus dilatih agar berani melakukan eksekusi.

Rupanya kawan sebelah meja mengikuti ulasan saya dan tiba-tiba bertanya. Pak Atjo apakah ini juga berlaku bagi pimpinan di daerah misalnya gubernur bupati, wali kota sampai kepala OPD.

Dia melanjutkan pertanyaannya apalagi di tahun 2020 ini ada Pilkada serentak untuk memilih kepala daerah? Saya sedikit kaget mendapat pertanyaan seperti itu dan hati-hati menjawab, karena sedikit politis dan di ruang terbuka.

Karena saya berpikir lebih kepada pendekatan akademik, saya mulai memberikan ulasan secara hati-hati.

Begini bro, ada persamaan antara Pak Amir dengan pimpinan di daerah misalnya kepala OPD, organisasi perangkat daerah. keduanya harus memiliki tiga kapasitas itu sebagai observer, desaigner dan eksecutor.

Yang membedakan adalah kadarnya. Kalau perhiasan emas itu ada yang sepuhan, 18 karat dan 24 karat. Semuanya pada tersenyum kecil.

***

Kesuksesan usaha Pak Amir tidak terlalu menuntut akan pendidikan, tetapi lebih kepada attitude atau perilaku. Misalnya bagaimana menjaga kepuasan pelanggan dengan mutu makanan yang konsisten, harga terjangkau serta kualitas layanan.

Sedangkan untuk kasus pemimpin di daerah menuntut adanya pendidikan yang lebih baik untuk melahirkan knowledge dan skill sesuai ruang lingkup tugasnya yang kemudian harus di integrasikan dengan attitude secara bersama.

Ruang lingkup tugas seorang kepala daerah tentunya lebih luas, karena harus memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakatnya. Semakin luas wilayahnya dan jumlah penduduknya semakin tinggi pula effornya (upaya) dan rentang resikonya.

Bisa dibayangkan ada tujuh bidang tugas yang harus dipertanggung jawabkan mulai dari menjaga wilayahnya terhadap gangguan/ancaman, dari dalam maupun luar, menjaga stabilitas di wilayahnya sampai kepada pertumbuhan ekonomi, sampai kepada menjamin pekerjaan bagi masyarakatnya.

***

Baik staf dan kawan mantan awak media tadi mengangguk-angguk tanda paham. Dan si kawan tadi kemudian berkomentar “ BERAT PUNYA INI” (istilah lokal terhadap sesuatu yang tantangannya besar), apalagi menghadapi era digital, distrupsi dan tantangan Indonesia maju 2045, ini butuh pemimpin penerobos batas, mampu melihat di balik bukit dan bisa menembak dari ruang sempit meskipun di halang-halangi.

Saya menimpali hey bro SO HEBAT NGANA ini (ngana bahasa loka anda), analisis setajam “silet”.

Semuanya tertawa lepas dan berdiri untuk kembali ke tempat tugas. Tidak lupa mengambil foto bersama Pak Amir di depan rumah makannya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Hadapi Masalah dengan “Salaama”

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar