Menggencarkan Anak Muda Masuk Politeknik, Solusi Menghadapi Bonus Demografi Indonesia

Menggencarkan Anak Muda Masuk Politeknik, Solusi Menghadapi Bonus Demografi Indonesia

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

MINDSET masyarakat yang menganggap “PNS”, “TNI-Polri”, hingga karyawan BUMN sebagai pekerjaan dengan kasta tertinggi membuat banyak angkatan kerja menempuh pendidikan akademik. Lalu tidak sedikit di antaranya yang gagal menggapai cita-citanya, harus kembali belajar melatih kemampuan khusus untuk bisa bekerja sesuai yang dibutuhkan pasar.

Fenomena ini banyak terjadi di Sulsel. Angkatan kerja menjadikan kampus berlabel “Universitas Negeri” sebagai pilihan utama dibanding “Politeknik”. Padahal label yang kedua lulusannya justru lebih dibutuhkan pasar.

Tahun 2025 tersisa kurang dari dua bulan lagi. Tahun di mana Indonesia akan mengalami bonus demografi. Yakni ketika jumlah usia produktif lebih banyak dari yang tidak produktif, dan jumlah orang produktif itu terus bertambah pada tahun tahun berikutnya.

Indonesia memang sedang surplus orang-orang yang bisa bekerja. Bisa dilihat dari jumlah orang yang melamar kerja selalu jauh lebih banyak dan berkali lipat dari kuota diterima.

Di Sulawesi, mindset masyarakat terkait tren bekerja menjadi penghalang yang membuat ribet para anak muda angkatan kerja. Kasta pekerjaan tertinggi itu, misalnya adalah PNS, anggota TNI-Polri, lalu pegawai bank, karyawan BUMN dan lain lain.

Baca Juga

Mindset ini membuat angkatan kerja memilih menempuh pendidikan akademik sebagai yang pertama dan menjadikan jalur pendidikan vokasi sebagai pilihan kedua atau ketiga. Akibatnya, kampus-kampus dengan label “Universitas Negeri”, “Sekolah Tinggi”, selalu lebih ramai dibanding berlabel “Politeknik”.

Tidak sedikit lulusan Kampus Universitas Negeri, harus kembali belajar dan melatih skill khusus untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya dengan belajar mengelas, pertukangan, untuk membuka usaha jasa interior misalnya. Atau belajar masak untuk bisa membuka usaha kuliner.

Negara Indonesia, dengan 70 persen penduduknya berada di usia produktif, membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia. Namun potensi ini belum optimal digarap jika fenomena di atas masih terjadi.

Menurut Dewi Andriani, S.ST., Par., M.Par, Wakil Direktur II Politeknik Bosowa, meskipun bonus demografi memberikan keuntungan, tantangan yang dihadapi adalah rendahnya minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi.

Pendidikan vokasi, yang berfokus pada keterampilan praktis dan pengetahuan yang relevan dengan dunia kerja, belum populer di kalangan masyarakat. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesiapan tenaga kerja untuk memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.