Terkini.id, Jakarta – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Rabu, 8 Januari 2020 mengadakan pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2020.
Acara ini dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, Para Mantan Menteri Luar Negeri, Ketua, Pimpinan, dan Anggota Komisi I DPR, Dewan Juri Adam Malik Award, Duta Besar Negara Sahabat dan Pimpinan Organisasi Internasional.
Dalam sambutannya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjabarkan prioritas politik luar negeri untuk tahun 2020 dan arah 5 tahun ke depannya.
“Diplomasi Indonesia akan dijalankan berdasarkan prioritas 4+1 yaitu penguatan diplomasi ekonomi, diplomasi perlindungan, diplomasi kedaulatan dan kebangsaan, dan peran Indonesia di kawasan dan global. Sementara plus satu-nya adalah penguatan infrastruktur diplomasi,” kata Retno pada Rabu 8 Desember 2020 di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta.
Dalam 5 tahun ke depan, kata dia diplomasi ekonomi akan betul-betul diperkuat. Wakil Menteri Luar Negeri telah mendapatkan tugas khusus Presiden RI untuk memperkuat diplomasi ekonomi.
- Bupati Sidrap Turun Tangan Tata Kawasan Monumen Ganggawa, Jadi Ruang Publik dan Pusat Ekonomi
- Pemprov Sulsel Perkuat Infrastruktur dan Ekonomi Digital Hadapi Tantangan Global 2026
- Kunci Akselerasi Ekonomi Sulsel 2026 adalah Hilirisasi
- Kedubes Inggris Temui Wali Kota Makassar, Bahas Kerja Sama Ekonomi Kreatif, Transportasi, dan Olahraga
- Wali Kota Makassar Apresiasi Livin Fest 2025 Jadi Mesin Edukasi dan Penggerak Ekonomi
“Penugasan-penugasan konkrit akan diberikan kepada para Kepala Perwakilan dalam memperkuat diplomasi ekonomi,” lanjut Retno.
Menurutnya, setiap negara menginginkan sebuah pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas. Mimpi besar dunia bagi sebuah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas, memerlukan sebuah enabling environment yang kuat.
“Salah satu enabling environment yang diperlukan adalah perdamaian dan stabilitas dunia. Meningkatnya rivalitas, persaingan bahkan proxi berpotensi sebabkan instabilitas dan konflik. Proteksionisme, nasionalisme sempit dan populisme masih akan berlanjut,” kata Retno.
Tren negatif ini harus ditransformasikan menjadi energi positif. Pesimisme yang ada di dunia harus diubah menjadi optimisme lalu rivalitas penting untuk diubah menjadi kerja sama dan trust deficit harus diganti menjadi strategic trust.
“Pendeknya, Indonesia ingin berada di depan, menjadi bagian dari upaya memajukan kolaborasi yang saling menguntungkan di dunia. Di tengah rivalitas, Indonesia konsisten membangun aliansi untuk memperkuat paradigma kerja sama dan kolaborasi,” urainya.
Di tengah semakin meningkatnya sikap proteksionisme, Indonesia akan membangun koalisi untuk terus mendorong paradigma saling menguntungkan, berkeadilan dan bukan zero-sum.
Retno menyimpulkan kolaborasi akan menciptakan peluang, menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan dapat menemukan solusi bagi tantangan global.
“Hal ini yang sebenarnya Indonesia dan ASEAN ingin proyeksikan melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific,” pungkasnya.
Kawasan Indo-Pasifik adalah the present and future of Sustainable Global Growth.
Retno mengungkapkan, Collaborative Strategic Outlook sangat penting untuk dimajukan karena akan menjadi game changer dari situasi dunia yang mengkhawatirkan dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih tinggi.
“Indonesia memiliki aset yang besar untuk mengembangkan ekonomi yang berkualitas dan sustainable. Pasar Indonesia besar. Penduduk produktif Indonesia juga besar,” terangnya.
Retno mengatakan, aset ini harus menjadi daya tawar tersendiri dan akan terus dikapitalisasi dalam mengembangkan kerja sama ekonomi dengan negara lain yang saling menguntungkan.
Dan Indonesia akan terus membangun industri-industri bernilai tambah tinggi, berbasis sumber daya alam nasional, guna meningkatkan kualitas pembangunan sehingga tidak terjerat dalam “middle income trap,” kata dia.
Beberapa prioritas perundingan kerja sama ekonomi tahun 2020: ratifikasi IA CEPA; ratifikasi I-EFTA CEPA; penandatanganan RCEP; itensifikasi negosiasi PTA/FTA/CEPA dengan negara-negara Afrika, Asia Selatan dan Tengah serta Pasifik, penjajakan FTA dengan Eurasian Economic Union (EAEU); dan mendorong implementasi perjanjian ekonomi yang telah ditandatangani dengan negara mitra.
Retno pun menyampaikan bahwa tahun ini, Indonesia akan mengadakan World Economic Forum on ASEAN & the Indo-Pacific 2020, 7-9 Juli 2020, Halal Industry Summit, yang akan menjadi platform kerja sama pengembangan industri halal, Conference on Digital Diplomacy, untuk mendukung penguatan ekonomi 4.0, Indonesia-Latin America and the Caribbean (INA-LAC) Business Forum ke-2, Indonesia-Middle East Energy Forum 2020, 5th World Cocoa Conference September 2020.
Selain itu, diplomasi ekonomi juga akan difokuskan untuk menarik investasi yang berkualitas dalam mendukung prioritas pembangunan Indonesia yang sustainable, pembangunan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, penguatan industri hilir dan pembangunan pulau-pulau terluar, terdepan, termasuk Kepulauan Natuna.
Kemlu juga akan terus mendorong dan mengawal kebijakan Outbound Investment Indonesia di luar negeri untuk perluasan pasar produk Indonesia, maupun meningkatkan daya saing industri Indonesia di tingkat global.
Dari pemetaan awal yang dilakukan Kemlu, setidaknya terdapat 285 Outbound Investment Indonesia saat ini dengan nilai mencapai USD 14,30 milyar. Ini adalah aset ekonomi Indonesia yang harus terus dikawal, difasilitasi dan dikembangkan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
