Terkini, Jeneponto – Luka dan kekhawatiran masih membekas di hati para orang tua siswa di Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto. Usai menyaksikan anak-anak mereka terbaring lemah dan harus mendapatkan perawatan medis bahkan dirawat di rumah sakit setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis, harapan yang awalnya muncul berubah menjadi kekhawatiran yang mendalam. Dari mulut mereka, keluar suara yang tegas dan permintaan yang menyentuh nurani semua pihak yang bertanggung jawab.
Ruslan, salah satu orang tua yang anaknya menjadi korban, dengan nada yang penuh kekhawatiran menyampaikan permintaannya yang jelas. Baginya, langkah yang paling tepat dan perlu segera diambil adalah menutup secara permanen dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini melayani penyediaan makanan yang menyebabkan anaknya harus mendapatkan perawatan medis.
Permintaan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, kejadian yang menimpa anak-anaknya telah membuktikan bahwa operasional dapur tersebut justru membahayakan keselamatan dan nyawa generasi penerus bangsa.
“Harapan saya, tolonglah dapur ini ditutup saja secara permanen. Gantikan dengan dapur yang benar-benar terjamin kualitasnya, bersih, dan mengutamakan keamanan makanan. Coba kita pikirkan, kalau kejadian seperti ini terulang kembali, siapa yang akan bertanggung jawab atas apa yang menimpa anak-anak kami? Siapa yang bisa menjamin keselamatan mereka jika dapur ini tetap dibiarkan beroperasi seperti sedia kala?” tanya Ruslan dengan suara yang bergetar menahan kekhawatiran.
Ia menambahkan bahwa sebagai orang tua, tugas utamanya adalah melindungi buah hati. Ketika program yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi justru menjadi sumber ancaman bagi kesehatan anaknya, maka sudah seharusnya ada perubahan besar yang dilakukan.
- Bersama Bergerak Membangun Desa, Semangat Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama TMMD ke-128 Jeneponto
- ARYADUTA Makassar Kampanyekan Hidup Sehat Lewat "Tjakap Djiwa"
- Kokoh Berjuang, Bersama Menuju Kemenangan, Muscab IX PPP Jeneponto Sukses Digelar, PAC Dukung Pimpinan Berkelanjutan
- Gubernur Sulsel Sabet Award Nasional, Program MYP Jadi Bukti Nyata Pembangunan Infrastruktur
- Bahas Penyakit Mematikan, RSUP Wahidin Hadirkan Pakar Dunia di WISE 2026
Berbeda dengan permintaan Ruslan, orang tua lainnya yang bernama Manu menyampaikan pendapat yang lebih tegas. Mengingat dampak yang sangat berbahaya bahkan mempertaruhkan nyawa, ia berpendapat lebih baik jika program ini tidak dilaksanakan sama sekali.
Manu menceritakan bagaimana anaknya harus dirujuk dan mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Pratama karena mengalami reaksi kesehatan yang berat usai makan menu yang disediakan. Pengalaman menyakitkan itu membuatnya memiliki keyakinan sendiri.
“Menurut saya, lebih baik program MBG ini dihapus saja. Lihatlah apa yang terjadi sekarang, justru yang ada anak-anak kami menjadi rusak kesehatannya. Kalau terus begini, nyawa mereka yang menjadi taruhannya. Daripada terus menimbulkan bahaya dan kekhawatiran, lebih baik program ini tidak ada sama sekali,” tegas Manu dengan nada yang tegas namun penuh kepedulian.
Suara-suara ini menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan masyarakat terhadap program yang digagas sebagai investasi masa depan kini sedang diuji berat. Apa yang seharusnya menjadi berkah, kini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat, tanggung jawab penuh, dan kualitas yang tidak boleh dikompromikan sedikit pun.
Para orang tua berharap Badan Gizi Nasional mendengar dan menindaklanjuti semua permintaan ini dengan bijak, demi keselamatan dan masa depan anak-anak Indonesia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
