Mimbar Ramadhan Maskulinitas

Mimbar Ramadhan Maskulinitas

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Penulis: Murniati Daeng Matarring, S. Ag

(Wakatum DPW BKPRMI Sulawesi Selatan & Ketua Harian Da’iyaat Parmusi Sulawesi Selatan)

Tulisan ini bisa menjadi otokritik dari realitas yang terjadi dan selama ini menjadi pengalaman selama penulis mendapat jadwal ceramah Ramadhan di beberapa masjid.

7 tahun terakhir selama anak anak sudah bisa ditinggal, penulis sudah seringkali mendapat jadwal ceramah di beberapa Majelis Ta’lim, Majelis Jum’at ibadah masa pemerintahan Bapak Bupati Ihsan Yasin Limpo dengan program Jum’at Ibadah dan Ceramah Ramadhan.

Pada Jadwal yang disodorkan oleh Panitia Masjid, penulis membaca jadwal dari hari pertama sampai hari terakhir Ramadhan memang sangat nihil nama perempuan atau Muballighaat dari nama yang tertera pada jadwal.

Palingan hanya tersebut dua atau tiga nama perempuan atau muballighaat. Ini menjadi atensi buat kaum perempuan bahwa panggilan berprofesi penceramah tidak hanya menjadi panggilan Muballigh atau laki laki tapi pada dalil amar ma’ruf laki-laki dan perempuan mempunyai tugas yang sama dalam mengajak untuk kebaikan.

Baca Juga

Ada banyak problematika umat yang harus dilroblem solving oleh kaum perempuan dan salah satu ruang yang tepat untuk menyampaikan adalah melalui mimbar RAMADHAN di mana pada kesempatan ini banyak jama’ah perempuan dan sekiranya ada penyampaian yang sifatnya umum menjadi konsumsi jamaah laki dan perempuan maka pada kesempatan inilah yang sangat tepat.

Oleh karena itu, semoga kedepan banyak perempuan yang ingin terlibat dalam tugas mulia ini.

Mimbar Ramadhan seringkali identik dengan muballigh laki-laki, dan memang banyak muballigh yang berperan penting dalam menyampaikan pesan-pesan agama di bulan puasa. Namun, perlu diingat bahwa peran muballighaat (muballigh perempuan) juga sangat penting dan berharga.

Dalam konteks maskulinitas, mimbar Ramadhan dapat dilihat sebagai ruang yang memungkinkan muballigh laki-laki untuk menunjukkan kepemimpinan dan kekuatan spiritual. Namun, ini tidak berarti bahwa muballighaat tidak memiliki peran yang sama.

Sebenarnya, ada banyak muballighaat yang sangat berpengaruh dan berhasil dalam menyampaikan pesan-pesan agama, seperti Ustadzah Zainab Al-Kalbani dan lain-lain. Mereka menunjukkan bahwa kekuatan spiritual dan kepemimpinan tidak hanya milik laki-laki.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.