Miris, Ini Kisah Lara Warga Gaza Sambut Idul Adha

Miris, Ini Kisah Lara Warga Gaza Sambut Idul Adha

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Miris, ini kisah lara warga gaza sambut Idul Adha. Bagi umat Muslim di seluruh dunia, tidak ada alasan untuk tak merayakan hari raya Idul Adha. Kendati demikian, bagi warga Palestina, tidak ada alasan untuk merayakan hari penuh suka cita dan kemenangan tersebut. Kondisi itu dialami khususnya warga yang kehilangan orang-orang terkasih dalam pertempuran antara militan Gaza dan Israel dua bulan lalu.

Hari raya Idul Adha sendiri dikenal sebagai hari raya kurban untuk memperingati Nabi Ibrahim demi menunjukkan pengabdiannya kepada Allah SWT. Idul Adha bertepatan dengan pelaksanaan haji, selain itu ada juga tradisi ziarah Islam tahunan ke Mekkah dimulai dari satu hari sebelum Idul Adha.

Seorang pensiunan guru berusia 73 tahun, Mahmoud Issa membeli pakaian baru untuk cucu-cucunya dan membawa mereka ke sebuah peternakan untuk membeli hewan. Namun, ia berduka atas kematian kedua putrinya Manar (39 tahun) dan Lina (13 tahun) yang meninggal dunia karena kamp pengungsi di Bureij dihancurkan Israel pada 13 Mei 2021 lalu.

“Kami dihantui rasa sakit, tetapi kami harus mengeluarkan anak-anak dari suasana ini dan membuat mereka merasakan suasana Lebaran,” ungkap Issa seperti dikutip dari Reuters via rri.co.id, Senin 19 Juli 2021.

Sehingga, imbuh Izza, mereka melupakan rasa sakit kehilangan ibu dan kakak perempuan mereka.

Baca Juga

Pemerintah dan Hamas mengatakan 2.200 rumah hancur dan 37 ribu rusak akibat dibom militer Israel selama 11 hari pertempuran lintas perbatasan.

Lalu, lebih dari 250 warga Palestina tewas dalam ratusan serangan udara Israel di Gaza yang diluncurkan setelah Hamas mulai menembakkan roket ke Israel. Aksi tersebut sebagai pembalasan atas apa yang dilakukan militer Israel sebagai pelanggaran hak terhadap warga Palestina di Yerusalem.

Sementara itu, di pasar ternak Gaza, mereka melaporkan penjualan yang buruk menjelang hari raya Idul Adha.

“Tahun ini, pembelian hewan lemah karena blokade, perang, dan virus corona,” beber seorang pedagang hewan kurban, Saleem Abu Atwa.

Untuk itu, ia berharap ketenangan terus berlanjut.

“Ini demi (kedamaian) semua orang,” imbuh Atwa.

Selain itu, di sebuah kios jalanan di lingkungan Rimal, Gaza, Mohammad Al-Qassas menyesali kehancuran toko sepatunya dalam pertempuran yang terjadi.

Pria berusia 23 tahun itu khawatir, gencatan senjata yang di tengahi Mesir yang mengakhiri permusuhan paling serius antara militan Gaza dan Israel, beberapa tahun mungkin tidak akan bertahan lama.

“Perang lain mungkin akan menjadi bencana,” ujar Al-Qassas.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.