Terkini.id, Jakarta – Usai dinobatkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB, batang hidung Moeldoko memang jarang lagi terlihat.
Kepala Staf Presiden tersebut seolah hilang ditelan bumi, meskipun tersiar beberapa kabar bahwa ia tengah sibuk mengurusi pekerjaannya membantu presiden.
Seperti yang kita tahu, selain menjabat sebagai Kepala Staf Presiden, kini mantan panglima TNI itu juga dijadikan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa alias KLB yang digelar di Deli Serdang, Sumatra Utara, beberapa waktu lalu.
Namun, setelah penobatannya, Moeldoko justru semakin jarang terlihat sehingga sempat membuat publik heran dan bertanya-tanya.
Oleh karena itu, baru-baru ini Ketua Badan Relawan Nusantara (BRN), Edysa Girsang, ikut buka suara.
- Moeldoko Sebut Adanya Motif Politik di Balik Pernyataan Mantan Ketua KPK Agus Rahardjo
- Reshuffle Kabinet Hari Ini, Beredar Kabar Syahrul YL Digantikan Moeldoko
- Upaya Melawan Moeldoko CS, Demokrat Sulsel Ajukan Perlindungan Hukum
- KUHP Baru Resmi Diundangkan Oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno
- Begini Komentar Moeldoko Terkait Kekejian TPNPB-OPM Bunuh Warga Tak Berdosa
Ia menyiratkan bahwa Moeldoko merasa minder dan itu disebabkan oleh banyak faktor.
Adapun salah satu faktornya, yaitu menurut Edysa, mantan Panglima TNI itu tengah dihantui oleh pikiran sebagai perusak citra pemerintah.
“Moeldoko dihantui pikiran bahwa dia perusak citra pemerintah. Bahwa sikapnya justru membuat Presiden Joko Widodo terjepit,” ujar aktivis yang akrab disapa Eq ini pada hari Rabu, 17 Maret 2021, seperti yang dikutip terkini.id dari rmol.id.
Mengapa demikian? Eq menjelaskan bahwasanya itu karena suka tidak suka, publik dipastikan melihatnya sebagai representasi dari pemerintah atau dengan kata lain, Moeldoko dianggap sebagai bagian dari penguasa.
“Saat ini publik menilai ada pembiaran,” lanjut Eq.
“Dan pasca KLB itu dinilai publik sebagai perilaku kekuasaan yang tidak beretika,” katanya lagi.
“Apalagi pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang mengatakan langkah Moeldoko itu sebagai bunuh diri politik,” pungkas Eq.
Dari catatan redaksi, Moeldoko diketahui hanya memberikan keterangan kepada wartawan sebanyak satu kali dalam pidato politik pertamanya di The Hill Hotel and Resort Sibolangit yang menjadi tempat penyelenggaraan Kongres.
Pasca pidato penobatannya itu, Moeldoko pun semakin jarang terlihat di muka publik.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
