Terkini.id, Makassar – OBORFEST menghadirkan Prof. Nurhayati Rahman, Kamis, 3 Desember 2020, dalam Diskusi Buku La Galigo Menurut Naskah NBG 188.
Yayasan Pustaka Obor Indonesia Bersama Yayasan La Galigo menerbitkan jilid 3 La Galigo Menurut Versi NBG 188. Sekaligus menerbitkan ulang Jilid 1, dan Jilid 2.
Jilid 1 pertama kali terbit 1995. Sementara Jilid 2 pertama kali diterbitkan 2000. Setelah itu, perlu waktu 17 tahun untuk terbit jilid 3.
Jilid selanjutnya yang tersisa 9 jilid, belum dapat diperkirakan penerbitannya. Prof. Nurhayati memesankan “ini menjadi tugas generasi muda”.
2003, Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Barru melaksanakan seminar internasional. Kemudian makalah terbit dalam buku yang berjudul Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia.
- DPRD Makassar Desak Dinas Pendidikan Larang Acara Perpisahan Siswa di Luar Sekolah
- BSI Gerakkan 10 Ribu Perempuan Selamatkan Bumi Lewat Aksi Tanam Pohon
- Pemprov Sulsel Matangkan RKPD 2027, Fokus Tekan Stunting dan Lindungi Kelompok Rentan
- Gubernur Sulsel Usulkan Sejumlah Proyek Jalan dan Jembatan Strategis ke Kementerian PU
- PT Vale Tanam Pohon dan Gaungkan Hemat Energi di Hari Bumi 2026, Komitmen Hijau yang Kuat di Area Operasi Morowali
Ikhtiar memperkenalkan La Galigo, membuahkan apresiasi pada 2011, dimana UNESCO menyematkan Memory of The World pada naskah La Galigo.
“Namun itu bukan akhir perjuangan, justru ini awal dari perjuangan” tutur Mukhlis pada saat penyerahan sertifikat tersebut yang diterima Gubernur Sulawesi Selatan, Dr Syahrul Yasin Limpo, 24 April 2011.
Dengan jumlah jilid, sementara ini Sureq Galigo yang bisa dibaca publik, baru sampai pada jilid 3. Maka, tentu memerlukan dukungan dari pelbagai pihak.
“Penerbitan Jilid 3 mendapatkan dukungan Yayasan La Galigo, Yayasan yang dipimpin Tanri Abeng”, tutur Prof. Nurhayati.
Begitu pula dukungan Jusuf Kalla, ketika itu Wakil Presiden RI, 2015-2019. “Sehingga jilid 3 bisa terbit pada tahun 2017,” kata Prof. Nurhayati.
Selanjutnya, Prof. Nurhayati menyampaikan bahwa bisajadi ini akan menjadi tragedy kebudayaan jikalau kita tidak mampu menghadirkan secara utuh 12 jilid tersebut.
“Padahal, kemampuan keuangan kita lebih baik dari waktu ke waktu. Maka, alokasi pendanaan untuk kebudayaanm idealnya juga meningkat,” tutup Prof. Nurhayati.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
