Opini: Jokowi Mendengar Saran Oposisi

Jokowi
Presiden Jokowi. (Foto: Indopolitika)

EKONOM senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menuturkan tidak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk mengendalikan pandemi Covid-19 selain dengan melakukan lockdown.

Fadli Zon mengkritisi rantai komando penanggulangan Pandemi sangat lemah, makanya perlu lockdown. Ekonom senior Rizal Ramli mengusulkan Presiden Jokowi untuk mengalihkan anggaran proyek infrastruktur yang nilainya mencapai Rp430 triliun masuk ke dalam pembiayaan penanganan pandemik Covid-19 atau corona.

Langkah itu mendesak karena wabah Covid-19 yang kian meluas di Tanah Air, dan itu dengan target Lockdown. Semua oposisi menyuarakan sama: Lockdown.

Kalau mengacu kepada UU Karantina, kebijakan Lockdown itu akan menempatkan negara jadi full undertaker. Di samping harus menanggung semua biaya hidup orang tanpa melihat status sosial, juga memastikan terselenggarannya pengobatan dan kesehatan.

Kalau saran Rizal Ramli diikuti untuk ongkos lockdown, uang habis hanya untuk ngongkosi orang makan tanpa kerja. Corona hlang, kita kehilangan trigger untuk recovery Ekonomi, bahkan bisa langsung terjun bebas.

Baca juga:

Bencana kelaparan menanti seperti Venezuela. Itulah yang mungkin diinginkan oposisi. Ekonomi nyungsep, Jokowi juga nyungsep.

Jokowi tidak paranoid dengan usulan Lockdown itu. Dia terima sebagai masukan dari anak bangsa. Tapi apakah mereka sadar bahwa kalau Lockdown dilakukan maka itu artinya presiden tidak hanya melaksanakan UU karantina tetapi juga menjamin tertip hukum atas UU Karantina itu, dengan menggunakan UU darurat sipil.

Itu artinya sama saja mengembalikan sistem otoriterian kepada Jokowi. Gimana dengan Sistem Otonomi Daerah? apakah sistem Otda dan UU Bencana Alam gagal melaksanakan misi menghadapi pandemi. Ini yang tidak disadari oleh oposisi.

Lantas dengan memperhatikan masukan dari semua pihak, maka Jokowi membuat keputusan, PSBB. Sudah sama dengan Lockdown karena pelanggaran social distancing jadi ranah pidana. Bukan lagi sekedar himbauan. Saran indef dan lainnya diterima.

Saran Rizal Ramli sebesar Rp430 untuk menghadapi C-19 disetujui. Uangnya tidak berasal dari mengalihkan dana infrastruktur tetapi dengan menaikan APBN lewat Perppu. Defisit melebar sebesar 5%.

Enggak ada masalah. Karena uangnya tidak habis dimakan. Tetapi sebagian besar untuk produksi terutama sebagai jaring pengaman sosial bagi masyarakat lapisan bawah. Sebagai stimulus ekonomi bagi UKM dan dunia usaha yang terkena dampak dari adanya Pandemi C-19. Realokasi APBD tetap dilakukan untuk focus penanggulangan wabah. Saran Zon diterima, dengan menerapkan UU darurat sipil agar rantai komando jelas dan keras terutama kepada pemda yang ngeyel.

Terimakasih Oposisi. Berkat anda, Jokowi semakin kuat dan punya pengaruh politik besar untuk keluarkan stimulus Rp 405 triliun dan sekaligus membungkam PEMDA yang ingin berpolitik lewat Pandemi C-19. Anda baik sekali, dan itulah gunanya oposisi.

Komentar

Rekomendasi

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Vaksin Lebaran

Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Memaafkan dan Dimaafkan

Keluarga Dokter

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar