Opini: Menghitung Pendapatan Bisnis MRT

MEDIA massa secara tidak langsung menjadi mentor orang awam untuk jadi baik atau bisa juga menjadi buruk.

Contoh Media massa memberitakan bahwa nilai investasi MRT Fase I yang mendapai Rp 16 triliun baru akan terbayar sekitar 48 tahun lagi.

Mereka beropini dan berasumsi dengan hanya pendapatan dari biaya ticket. Padahal pendapatan MRT itu tidak mengandalkan kepada harga ticket. Tetapi pada pendapatan di luar tilet (non-fare box). Untuk mengetahui peluang bisnis MRT ini , saya akan gambarkan secara ringkas pendapatan MRT itu.

Ini hitungan sederhana. Apa saja pendapatan MRT itu ?

Pendapatan dari Public service Obligation (PSO), Rp 423 miliar.

Apa itu PSO? Itu adalah kompensasi yang diberikan negara kepada pelayanan publik dalam rangka efisiensi nasional. Dengan pengenaan tarif 1 April mendatang, artinya pemprov akan mensubsidi 287 hari perjalanan sepanjang tahun ini.
Hitung-hitungan kasarnya, pemprov harus mengucurkan Rp423,03 miliar untuk penggunaan MRT tahun ini saja. Kalau digabung dengan LRT , totalnya menjadi Rp650 miliar. Besar? tentu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan pemborosan tanpa adanya MRT.

Data dari Masyarakat Transfortasi Indonesia kerugian akibat kemacetan jakarta sebesar Rp. 150 triliun setahun. Data dari Bappenas , kerugian akibat kemacetan sebesar sekitar Rp 67,5 triliun setahun.

Pendapatan dari Iklan Rp 500 miliar per tahun.

Disemua tempat strategis MRT akan menjadi wahana iklan. Mengapa ? karena MRT tempat 120.000 orang lalu lalang setiap harinya. Hampir semua perusahaan yang menghasilkan produk, menjadikan MRT sebagai wahana iklannya.

Katankanlah harga iklan termurah adalah Rp 500 juta per tahun. Mahal? Enggak. Karena 120.000 audience per hari, itu sama dengan 360 hari sebanyak 43.200.000 orang. Kalau dibagi Rp 500 juta maka biaya iklan per audience hanya sebesar Rp 11 rupiah. Itu sangat kecil sekali.

Bandingkan dengan iklan di TV yang durasi 36 detik saja bisa mencapai diatas Rp 30 juta. Di Hong Kong biaya iklan di MRT per tahun mencapai HKD 3 juta atau Rp 4 miliar.

Nah, di MRT Jakarta itu diperkirakan jumlah wahana iklan akan sedikitnya mencapai 1000 site atau total pemasukan dari iklan saja bisa mencapai Rp 500 miliar.

Pendapatan dari Wahana komersial dan TOD Rp 1 triliun.

Beberapa tempat di stasiun MRT akan menjadi wahana komersial untuk penjualan beragam produk. Bukan itu saja juga pendapatan dari TOD. Mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) No. 140/2017, PT MRT Jakarta ditugasi untuk mengelola kawasan TOD di wilayah stasiun MRT fase 1 mulai dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.

Sewa ruangan ini tidak murah. Rata rata di atas Rp 500 ribu per M2/bulan. Diperkirakan pendapatan dari bisnis ini bisa mencapai Rp 1 triliun setahun.

Pendapatan dari Fee aplikasi pembayaran digital Rp 50 miliar.

Alat pembayaran ticket MRT akan menggunakan aplikasi online dan kartu digital. Alat pembayaran ini di samping untuk bayar ticket juga dapat digunakan untuk belanja barang retail.

Di perkirakan sedikitnya 30 % dari penduduk jakarta akan menjadi konsumen MRT.  Itu sama dengan 4,5 juta orang. Putaran transaksi menggunakan alat pembayaran ini bisa mencapai sedikitnya Rp 50.000 per hari atau setahun Rp 2,5 Triliun. Kalau fee sebesar 2% saja maka jumlah pendapatan MRT dari alat pemabayaran ini bisa mencapai Rp. 50 miliar.

Kalau MRT sudah terintegrasi dengan semua kuridor diperkirakan akan mencapai 10 juta orang menggunakan alat pembayaran ini. Itu per tahun pendapatan Rp. 1 triliun.

Pendapatan tersebut diatas belum termasuk dari penjualan ticket, penggunaan nama stasiun sesuai permintaan dan dana mengendap dari adanya sistem pembayaran. Nah kalau ditotal pendapatan dari non ticket akan mencapai Rp. 2 triliiun. Itu perhitungan sangat pesimis dan konservatif.

Jika biaya investasi sebesar Rp. 16 triliun maka 8 tahun sudah balik modal. Kalau perhitungan dari Direktur MRT pengembalian modal selama 4-5 tahun. Bisnis menarik kan? Makanya di Hongkong hutang pemerintah untuk bangun MRT di bailout oleh swasta dengan kompensasi mengelola payment system yang bernama octopus.

Berita Terkait
Komentar
Terkini