Paul Pogba Bantah Mundur dari Timnas Prancis Gegara Agamanya Dihina

Paul Pogba
Paul Pogba. (Madaninews)

Terkini.id, Jakarta – Gelandang Manchester United, Paul Pogba, membantah dirinya mundur dari Timnas Prancis gegara agamanya dihina Presiden Emmanuel Macron.

Sebelumnya, Media Inggris The Sun melaporkan bahwa Pogba berhenti dari Timnas lantaran menilai Presiden Prancis tersebut telah menghina umat Muslim.

Namun, Paul Pogba mengklarifikasi pemberitaan The Sun tersebut. Ia pun mengaku marah kepada media Inggris itu.

“The Sun melakukannya lagi. Berita tentang saya itu 100 persen tak berdasar, dan mengatakan sesuatu yang tak pernah saya ungkapkan,” ujar Pogba lewat akun Instagram miliknya, Senin 26 Oktober 2020.

“Saya merasa terkejut, marah, kaget dan frustasi atas sumber beberapa media yang menggunakan saya sebagai headline palsu terhadap masalah yang sensitif saat ini di Prancis dan menambahkan agama saya dan timnas Prancis ke dalamnya,” sambungnya.

Menarik untuk Anda:

Dalam unggahan klarifikasinya, Pogba juga menegaskan akan melawan segala bentuk terorisme dan kekerasan, khususnya yang menyangkut Islam.

“Saya melawan semua jenis terror dan kekerasan. Agama saya adalah agama yang dami dan penuh cinta serta harus dihormati. Sayangnya, beberapa orang media beraksi tak bertanggung jawab, dengan menulis berita ini dan mencederai kebebasan pers, tak memverifikasi apakah tulisan itu benar atau tidak, tanpa mempedulikan efeknya pada kehidupan saya dan banyak orang,” ujarnya.

Sebelumnya, Paul Pogba dilaporkan mundur dari Tim Nasional (Timnas) Prancis. Hal itu berdasarkan laporan media Inggris, The Sun, pada Senin 26 Oktober 2020.

Menurut pemberitaan The Sun, keputusan tersebut diambil Pogba lantaran Presiden Prancis, Emmanuel Macron, diduga menghina agama yang dianut Pogba, yakni Islam.

Untuk diketahui, pada pekan lalu atau pada Rabu 21 Oktober 2020, Macron mengeluarkan kecaman terhadap aksi pembunuhan yang menimpa seorang guru sejarah, yakni Samuel Paty.

Samuel Paty sebelumnya ditemukan tak bernyawa di Conflans-Sainte-Honorine, barat laut Paris, lantaran beberapa hari sebelumnya dia menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai contoh kasus saat mengajar.

Usai pembunuhan tersebut, Presiden Prancis, Macron, mengungkapkan bahwa pelaku dalam pembunuhan Samuel Paty merupakan kelompok Islam militan domestik atau biasa disebut Cheikh Yassine.

Karena itulah, Macron meminta kelompok tersebut dibubarkan demi kebaikan bersama.

Selain itu, Macron juga meminta Masjid Pantin yang terletak di pinggiran timur laut Paris untuk ditutup. Hal itu karena salah jamaah masjid tersebut merupakan salah satu wali murid, di mana Samuel Paty mengajar.

Satu lagi, Macron juga mengungkapkan hal kontroversial lain. Ia menyebut Samuel Paty ‘dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kita’.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Update Covid-19 per 30 November: Kasus Positif Tambah 4.617 Pasien, Total 538.883

Soal Pembantaian di Sigi, Abu Janda: Itu Alasan Banser Suka Jaga Gereja

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar