Pemuda Sebagai Benteng Pelindung Publik dari Hoax

Himpunan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri Alauddin menyelenggarakan Dialog Publik dengan tema “Peran Pemuda Menangkal Hoax dalam Merajut Pilkada Damai" Jumat 20 Maret 2020.

Terkini.id — Himpunan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri Alauddin menyelenggarakan Dialog Publik dengan tema “Peran Pemuda Menangkal Hoax dalam Merajut Pilkada Damai” Jumat 20 Maret 2020.

Pembicara pada acara yang diselenggarakan di Warkop Bundu Jln Aroepala Kota Makassar tersebut adalah Ketua Bawaslu Kota Makassar, Nursari. Yang panel dengan dua orang lainnya yaitu Anggota Komisioner KPU Kota Makassar, Gunawan Mashar serta Ahmad Aidil Fahri selaku Ketua DEMA Universitas Islam Negeri Alauddin. Para peserta berasal dari Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Alauddin, organisasi Mahasiswa serta beberapa rekan media.

Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka melawan hoax pada Pemilihan Serentak tahun 2020 di 12 Kabupaten Kota Sulawesi Selatan terutama di Kota Makassar yang saat ini memasuki tahapan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar tahun 2020.

Saat memberikan materinya, Nursari menyampaikan bahwa hoax atau berita bohong banyak terjadi selama Pemilihan serentak tahun 2018 serta Pemilu tahun 2019, terutama di media sosial. Juga banyak dampak negatif yang terjadi karena penyebaran hoax tersebut mengakibatkan demokrasi tidak berjalan dengan damai. 

“Kita sudah punya banyak pengalaman soal hoax atau berita bohong terutama selama Pemilihan tahun 2018 dan Pemilu tahun 2020, dan itu banyak terjadi di media sosial. Hal tersebur bisa berdampak pada pemilihan atau pemilu yang tidak damai”, ucap Nursari.

Baca juga:

Gunawan Mashar juga menyampaikan hal senada dengan Nursari. Ia mengatakan bahwa saat ini, banyak informasi yang tidak berdasarkan data dan fakta yang beredar di media sosial. 

“Akhir-akhir ini di media sosial, kita begitu mudah mendapatkan informasi tanpa data dan fakta”, ungkap Gunawan.

Sedang pemateri selanjutnya , Ahmad Aidil Fahri menyatakan bahwa pengguna internet paling banyak adalah para pemuda, sehingga paling rentan mendapatkan hoax. Padahal hoax tersebut didesain agar pemilu maupun pemilihan tidak berjalan dengan baik.

“Separuh pengguna internet di Indonesia adalah pemuda, sehingga pemuda sangat rentan mendapatkan informasi bohong di media sosial. Padahal hoax dibuat untuk mengkotak-kotakkan kita serta membuat pemilu tidak berjalan dengan baik”, kata Ahmad Aidil.

Agar pemuda dapat mencegah penyebaran hoax, Nursari membagikan tipsnya dengan menyatakan bahwa setiap informasi yang didapatkan harus divalidasi, dikaji dan dikonfirmasi. Pemuda tidak bisa serta merta menelan informasi yang ada. Pemuda juga harus dengan tegas menyatakan menolak hoax di Indonesia.

“Informasi yang didapatkan harus divalidasi, dikaji dan dikonfirmasi oleh Pemuda agar tidak terpapar hoax. Pemuda tidak bisa serta merta menelan informasi yang ada serta harus berani menyatakan menolak hoax di Indonesia”, tegas Nursari.

Sedang dalam pandangannya, Gunawan Mashar mengatakan bahwa informasi yang didapatkan tidak boleh serta merta dapat dipercaya, harus dicek lebih dahulu. Para pemuda juga tidak boleh menyebar berita yang informasinya tidak jelas.

“Jangan mudah percaya dengan informasi yang ada. Para pemuda juga jangan menyebarkan informasi yang tidak jelas apalagi hoax”, ungkap Gunawan.

Selain Nursari dan Gunawan Mashar, Ahmad Aidil Fahri juga menyatakan bahwa pemuda harus memulai dengan hal kecil dengan tidak menyebarkan berita yang mengandung isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) dan hoax di media sosial. 

“Perubahan besar dimulai dari perubahan kecil, maka pemuda harus memulai dari hal kecil yaitu tidak menyebarkan berita yang mengandung isu SARA dan hoax”, tegas Ahmad Aidil.

Di akhir acara, Nursari membakar semangat para pemuda yang hadir dengan menyatakan bahwa peran pemuda sangatlah penting sehingga harus melawan hoax pada pemilihan 2020 ini. Pemuda juga harus membentengi publik dari hoax.

“Sejarah bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari peran pemuda, sehingga para pemuda juga harus punya peran melawan hoax pada pemilihan 2020 ini. Pemuda harus membentengi publik dari paparan hoax” tutup Nursari.

Komentar

Rekomendasi

KPU Sulsel Minta Tambahan Anggaran Pilkada, RPG Setujui

Bawaslu Makassar Awasi Pelaksanaan Uji Coba E-Coklit

KPU Toraja Utara Uji Coba E-Coklit

MRP Sebut Danny Pomanto Lebih Nyaman Bersama Partai Golkar

Ini Alasan Abdul Rahman Bando Terima Pinangan Appi

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar