Jelang Pilkada Serentak, Media Sosial Dianggap Mempengaruhi Pilihan Politik

Diskusi yang digelar oleh lembaga Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDi) Sulsel, LIPI dan menghadirkan Komisioner KPU Makassar, Gunawan Mashar, di kantor JaDi Sulsel, Jalan Pettarani IIIC , Sabtu 16 November 2019.

Terkini.id — Jelang memasuki tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendatang, Media Sosial (Medsos) masih dianggap berpengaruh dalam hal menentukan pilihan politik.

Berdasarkan data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebanyak, 60,6 persen medsos memberi berpengaruh untuk pilihan politik generasi muda atau milenial.

Itu dipaparkan pada diskusi, lembaga Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDi) Sulsel, LIPI dan menghadirkan Komisioner KPU Makassar, Gunawan Mashar, di kantor JaDi Sulsel, Jalan Pettarani IIIC , Sabtu 16 November 2019.

“Media sosial menjadi alternatif pilihan ketika ada ketidak percayaan pada media mainstream. Tetapi Medsos juga bisa memberikan dampak buruk ketika kita tidak bijak mengolahnya,” kata Ketua Presidium JaDi Sulsel, Ana Rusli.

Sementara itu. Gunawan Mashar mengatakan, di era milenial bisa menulis dengan gaya apapun. Beda dengan lalu framenya penulis jelas ada standarnya.

Revolusi industri berjalan dengan cepat sehingga informasi cepat dan sulit ditelaah. Berita hoax dan buzzer politik jika tidak mampu ditangkap atau share tanpa filter akan berbahaya bagi siapapun karena jeratan UU ITE.

“Jika anda suka menulis politik, di medsos anda teguhkan niatnya. Tuangkan ide-dide dan tidak perlu jadi kolumnis atau wartawan dulu. Di media sosial bisa jadi apa saja. Tipikal pengamat, inteletualis, jenaka, informatif, buzzer. Kalau mau jadi buzzer, tetap jadi buzzer yang pintar dan tidak alergi dengan kekinian.“ Kata Gun

Sedangkan, Jurnalis Mongabay, Eko Rusdianto mengatakan, kecepatan informasi semua orang bisa melaporkan kejadian. Media digunakan media sosial facebook, twitter, instagram bahkan share di WhatsApp.

“Kita bisa melaporkan tetapi sifatnya informasi. Karena WhatsApp, bagi saya itu bukan karya jurnalistik,” Kata Eko.

Eko menjelaskan bahwa masih banyak fenomena sosial bisa diulas dengan cara naratif dengan sudut pandang politik. Misalnya tulisan Eko soal Memori anak-anak curian dari Timor Leste

“Bagi saya itu soal politik, bagaimana Indonesia menginvasi Timor Leste dan anak-anak jadi korban. Hingga kini mereka tidak tahu keberadaan dan kampungnya,“ tambah lulusan Yayasan Pantau.

Dia mengingatkan generasi muda untuk lebih peka menulis mengangkat tema-tema keberpihakan pada masyarakat seperti soal perempuan, pendidikan, kebebasan berkeyakinan, buruh, hak petani dan lainya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini