Pendidikan Maros yang Keren

Terkini.id, Makassar – Kesempatan kali ini, sebuah peluang untuk mengikhtiarkan pendidikan Maros yang keren. Diksi keren sendiri mengacu kepada tagline pasangan bupati dan wakil bupati Maros yang dilantik awal 2021.

Berikut ini, tantangan yang perlu diidentifikasi sehingga tidak menjadi sebuah masalah baru yang akan menjadi penghambat dalam mencapai pendidikan yang diinginkan.

Pertama, rata-rata lama pendidikan yang tidak mencapai kelas 9. Hanya sampai pada kelas 7. Ini berarti bahwa penyelesaian pendidikan sampai di tingkat sekolah menengah pertama, tidak tuntas.

Baca Juga: Pemprov Sulsel Siapkan Anggaran Untuk Pemindahan Lokasi SMAN 12 Tana...

Padahal, sekolah satu atap sudah didirikan yang tersebar di penjuru kecamatan yang dipandang bahwa lokasi sekolah menyukarkan bagi para peserta didik untuk menikmati pendidikan menengah.

Msalah kedua terkait dengan kompetensi guru. Diklat maupun latihan untuk melatih penguasaan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran menjadi kendala tersendiri. Belum lagi, kondisi pagebluk merupakan titik nadir dalam pendidikan.

Baca Juga: Diskusi Dengan Orang Tua Penyandang Disabilitas, Begini Ungkap Direktur YKPAI...

Dalam hal ini, pembelajaran jarak jauh yang selama ini tidak pernah dialami. Sehingga “mendadak daring” dimana keterkejutan dalam menghadapi situasi pandemi hingga menjadi masalah apa adanya.

Ketidaksiapan dan ketidakmampuan untuk segera belajar juga menjadi kondisi yang dihadapi guru, dan semua komponen pemangku kepentingan pendidikan.

Begitu pula orang tua. Selama ini hanya membawa semua urusan pendidikan ke sekolah. Ketika di hadapkan pada urusan mendampingi urusan sekolah anak, muncullah keluhan dan juga masalh baru.

Baca Juga: Diskusi Dengan Orang Tua Penyandang Disabilitas, Begini Ungkap Direktur YKPAI...

Masa Depan Pendidikan Keren

Untuk sampai pada visi-misi yang ditetapkan untuk dijadikan bagian dalam perencanaan pembangunan, maka kesempatan pandemi ini untuk mengintensifkan dialog dengan semua komponen merupakan peluang emas untuk dilakukan.

Identifikasi infrastruktur pendidikan yang akan menjadi bagian dalam mewujudkan ekosistem Pendidikan setidaknya dalam wilayah kabupaten Maros.

Diperlukan intervensi dalam bentuk penyediaan dukungan pembiayaan bersama. Dimulai dari alokasi APBD dan juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut dalam mengumpulkan dana pendidikan.

Tidak ada lagi jargon “sekolah gratis” dimana ini menjadi slogan dalam kampenye politik di awal abad 21. Padahal, kalaulah Pendidikan gratis tidak mungkin Imam Syafii mengingatkan dalam kata dirham untuk syarat dalam menikmati pendidikan.

Salah satunya dapat dilakukan dengan adanya program infaq pendidikan. Sekaligus mengintegrasikan antara visi religius dengan program pendidikan. Melalui spirit keberagamaan, akan menjadi peluang dalam mendapatkan dana pendidikan yang tidak tersedia dalam pembiayaan melalui mekanisme APBD.

Selanjutnya, perlu diterokai peluang untuk menempatkan wifi ataupun jaringan internet melalui rumah ibadah. Sebagai contoh, masjid. Dimana pembelajaran jarak jauh berbasis masjid. Ketika jam operasional sekolah tidak lagi memungkinkan untuk membuka sekolah, maka masjid dapat dijadikan sebagai tempat belajar bersama, dimana memungkinkan untuk sampai shalat Isya.

Belum lagi, ketiadaan perpustakaan yang memungkinkan untuk mendapatkan akses bahan belajar yang memadai. Di masa lalu, ada perpustakaan bergerak. Ini dapat diaktifkan kembali dengan menyediakan mobil-mobil yang bergerak ke setiap lokasi untuk meminjamkan buku bagi murid dan siswa.

Lagi-lagi, perpustakaan dapat pula ditempatkan di rumah ibadah. Dengan pelaksanaan ibadah yang rutin, maka jamaah dapat pula mengakses bahan-bahan bacaan yang ada di masjid. Walau ini akan menjadi tantangan tersendiri, dimana masyarakat lebih suka membaca informasi yang tersedia secara digital.

Kalau begitu, website masjid sudah perlu dikembangkan. Dapat ditempatkan di website desa, ataupun juga instansi yang memungkinkan.

Semua uraian ini dapat diwujudkan jikalau ada kemauan bersama. Saya mengemukakan sebagai bagian akhir sebuah pepatah lama “kalau hendak seribu upaya, kalau tak hendak seribu dalih”.

Kata kuncinya, adalah kemauan. Ketika kemauan sudah ada, apapun kendalanya dan juga kondisinya tetap saja memungkinkan untuk dilaksanakan. Maka, kemauan untuk berkomunikasi antar semua elemen pendidikan yang ada perlu dilaksanakan lebih intensif.

Ismail Suardi Wekke
Anggota Terpilih
Dewan Pendidikan Kabupaten Maros
2021-2026

Bagikan