Penerbit MIB Indonesia Luncurkan Buku Karya Alumni SMAIT Ar-Rahmah

Penerbit MIB Indonesia Luncurkan Buku Karya Alumni SMAIT Ar-Rahmah

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkini.id, MakassarPenerbit MIB Indonesia sukses menggelar kegiatan Launching Buku dan Bincang Literasi, bertempat di Kopitan Plus Cafe, Kota Makassar, Minggu 7 November 2021.

Kegiatan Launching Buku dan Bincang Literasi dari Penerbit MIB Indonesia itu dihadiri oleh puluhan peserta.

Dalam kegiatan itu, salah seorang peserta menanyakan apakah tulisan yang bertentangan dengan kebijakan instansi atau organisasi maupun universitas bisa dituangkan dalam tulisan.

“Bisa, dalam tulisan fiksi contohnya novel, cerpen maupun puisi. Di mana tulisan fiksi, penulis bisa jadi Tuhan dalam tulisannya,” jawab Sekretaris Penerbit MIB Indonesia, Suci Muslimah.

Lanjut Suci menambahkan bahwa yang penting terkait hal itu adalah nama instansi maupun tokohnya diubah dalam tulisan fiksi.

Baca Juga

Terkait pertanyaan peserta tersebut, Pimred MIB Indonesia berpendapat bahwa yang penting dalam isi tulisan tersebut tidak bersinggungan dengan SARA.

“Serta mematuhi kode etik kepenulisan,” tambah Rahmah.

Dalam kegiatan tersebut, Penerbit MIB Indonesia meluncurkan buku ‘Bumi & Hujan’ dan “Rinduku Diembus Angin dalam Pelukmu’ yang dirangkaikan dengan Bincang Kepenulisan.

Penulis kedua judul buku yang baru diluncurkan tersebut yakni Awal Rafi, salah satu alumni SMAIT AR-RAHMAH.

Ia menjelaskan bahwa menulis merupakan wasilah untuk berbagi. Cara untuk mengubah pemikiran orang yang belum dewasa, belum terbuka dan masih terpenjara. Hal itu menjadi salah satu alasan Rafi suka menulis.

“Setelah niat, berbuat lebih, melek membaca, ada kalanya kita mencari sosok idola dalam dunia literasi. Mungkin sosok idola saya dalam dunia literasi adalah seorang Fiersa Besari. Nah, kawan-kawan juga harus menemukan sosok idolanya sendiri. Mungkin Rintik Sedu, Erisca Febriani, Sapardi Djoko Damono, atau bahkan saya sendiri?” kata Rafi sambil tersenyum sewaktu ditanya siapa sosok idolanya.

 “Sama halnya dengan dunia asmara, kita tidak semangat kalau tidak ada dia yang diistimewakan. Ciah. Begitu juga dengan dunia literas, kita tidak semangat kalau kita tidak punya sosok yang kita istimewakan atau kita idolakan,” sambungnya.

Saat ini, Awal sedang menjalani pendidikan di UIN Alauddin Makassar dan mengambil jurusan Sejarah Peradaban Islam.

Ada beberapa pegiat literasi yang juga turut diundang untuk mengisi Bincang Literasi pada kegiatan tersebut yakni, Tetta Sally (Penulis Tata Cara Bersuci dari Patah Hati), Deyha Na Dyah (Pegiat Literasi Makassar) serta Aurora Rahmah (Pimpinan Redaksi Penerbit MIB Indonesia).

Salah satu peserta bertanya, mengapa seseorang harus berliterasi. Pimred MIB Indonesia, Aurora Rahmah pun menjawab hal itu.

“Sebenarnya Literasi mencakup segala lini kehidupan. Berbicara, membaca, menulis, bahkan sekarang ini kita sedang berliterasi. Untuk hal mendasari bahwa kita harus berliterasi, ya sama halnya dengan makan, kita butuh makan, untuk bekerja, berkegiatan,” tutur Aurora Rahmah.

“Begitu pun literasi, salah satunya membaca, membaca buku, membaca kehidupan, tentu setelah itu akan masuk ke pikiran kita, dan pada akhirnya, bisa dibicarakan juga. Bisa difungsikan juga. Orang yg tidak berliterasi maka dia akan diam, tak tahu mau bilang apa, sebab apa yang mau bilang kalau di isi kepalanya tidak ada yang bisa ia katakan?” tambahnya.

Zakiyah selaku Editor Penerbit MIB Indonesia sebagai moderator juga melemparkan pertanyaan terkait pendapat pembicara tentang book shaming.

Moderator mengarahkan kepada Deyha Na Dyah selaku salah pemateri Bincang Literasi untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Berangkat dari hal tersebut, sebenarnya kasus ini merupakan sesuatu hal latah yang kerap diviralkan. Masing-masing dari diri kita perlu sebenarnya berpikir kritis tapi tidak boleh berlebihan. Sampai mengomentari buku yang dibaca oleh seseorang,” jelas Deyha selaku Pegiat Literasi.

Dey sapaan akrabnya, melanjutkan bahwa kita bisa saja mengatur pikiran untuk tidak memberikan komentar buruk dengan apa yang orang lain baca. Sebab setiap bacaan pasti dari masing-masing orangnya membaca buku tersebut karena memiliki kebaikan di dalamnya, maka hargai setiap buku yang orang lain baca. 

“Kalau semua apa-apa dilatahkan, apa lagi tentang book shaming. Maka bisa kacau dunia literasi kita. Karena dalam hal membaca kebiasaan membaca kita di Indonesia berada diurutan yang lumayan memprihatinkan. Apalagi dengan munculnya book shaming jika terus digaungkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Maka bisa saja kita tidak akan pernah maju dengan dunia literasi membaca kita,” kata Deyha.

Sementara pembicara lainya yakni Tetta Sally (Penulis Buku Cara Bersuci dari Patah Hati) menyampaikan pesan kepada peserta kegiatan.

“Jadilah pembaca yang baik dan bagus. Dengan cara menghargai karya para penulis, membacanya, mendiskusikannya, lalu mengkritisinya,” ucap Tetta.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan puisi oleh perwakilan dari SMAIT AR-RAHMAH, yakni Aqilah dan Aura Flora.

Citizen Reporter : Azimah Nahl (Anggota Pecandu Aksara)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.