Masuk

Pengamat Anggap Serangan AHY ke Jokowi Untuk Naikkan Elektabilitas Demokrat

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Syarwi Chaniago selaku pengamat politik memberikan pendapatnya tentang kritikan yang dilontarkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kepada Presiden Jokowi yang terjadi belakangan ini.

Menurut Syarwi Chaniago, ada alasan khusus dibalik serangan AHY kepada Presiden Jokowi, yaitu masalah elektabilitas.

Ia juga menduga ini merupakan cara AHY untuk menaikkan dukungan terhadap dirinya maupun Partai Demokrat pada pemilu 2024 mendatang.

Baca Juga: Heboh, Rocky Gerung Dirangkul Wanita Saat Nonton Konser Dewa 19

“Tentu saja cara seperti ini untuk meningkatkan elektabilitas AHY atau Demokrat,” ujar Syarwi Chaniago, dikutip terkini.id dari rmol.id, Senin 26 September 2022.

Walaupun begitu, Syarwi Chaniago mengingatkan untuk para pihak oposisi agar memberikan kritikan dengan menggunakan fakta dan terbukti benar adanya.

“Tidak berdasarkan asumsi atau persepsi yang sepihak,” kata Syarwi Chaniago.

Baca Juga: Ridho Rahmadi: Dua Periode Pemerintahan Jokowi Tidak Menunjukkan Perbaikkan Pemberantasan Korupsi

Lalu, Syarwi Chaniago berujar bahwa setiap orang yang pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

“Setiap presiden punya kelebihan dan kekurangan menurut saya,” tutur Syarwi Chaniago.

Sebagai informasi, dalam acara Rapimnas Partai Demokrat yang digelar pada Jumat 16 September 2022, AHY menyoroti soal pembangunan infrastruktur yang terjadi pada era Presiden Jokowi.

AHY berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur tersebut sudah direncanakan terlebih dahulu sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat sebagai kepala negara.

Baca Juga: Anies dan Tim Kecil Koalisi Perubahan Sambangi AHY di kantor Demokrat

Oleh karena itu, AHY merasa heran mengapa sampai saat ini masih belum ada yang mengapresiasi SBY ataupun Partai Demokrat.

“Kadang-kadang saya speechless juga mengatakannya. Tapi kenapa sih, kita tidak kemudian mengatakan, terima kasih telah diletakkan landasan, telah dibangun 70 persen, 80 persen, sehingga kami tinggal 10 persen tinggal gunting pita. Terima kasih Demokrat, terima kasih SBY, begitu,” ucap AHY.

Selanjutnya, AHY membahas soal para pihak yang terus membandingkan pemerintahan Presiden Jokowi dengan SBY.

Suami Annisa Pohan ini lantas langsung menguraikan fakta lain yang terjadi ketika SBY berjaya di Indonesia.

AHY menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004-2014 mencapai 256,84 miliar dolar AS menjadi 890,81 miliar dolar AS.

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada era SBY berarti meningkat 3,5 kali lipat. 

Jika dibandingkan dengan Presiden Jokowi saat ini, pertumbuhan ekonomi baru naik 1,3 kali lipat dari 890,81 miliar dolar AS menjadi 1.190 miliar dolar AS.

AHY juga mengklaim angka kemiskinan di Indonesia pada masa SBY berhasil turun dari 16,7 persen menjadi 10,9 persen.

Sedangkan pada era Presiden Jokowi, angka kemiskinan baru turun 1,1 persen, yang tadinya 10,9 persen menjadi 9,8 persen.

“Jadi jangan dibilang Demokrat tidak peduli infrastruktur,” pungkas AHY.