Penyuluh dan Petani Atur Strategi Kejar Tanam, Bukti Semangat Tinggi dan Kerja Ekstra Insan Pertanian Tana Toraja

Penyuluh dan Petani Atur Strategi Kejar Tanam, Bukti Semangat Tinggi dan Kerja Ekstra Insan Pertanian Tana Toraja

R
Polbangtan
Redaksi

Tim Redaksi

Penyebaran Covid-19 di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia telah berdampak pada sejumlah sektor usaha, salah satunya yaitu sektor pertanian. Namun hal tersebut tidak menghalangi petani untuk melakukan strategi kejar tanam yaitu penanaman kembali setelah panen.

Strategi kejar tanam ini salah satunya terjadi di Kabuapaten Tana Toraja, Kecamatan Saluputti.

Penyuluh Pendamping BPP Saluputti menjelaskan tentang data Statistik Daerah Kabupaten Tana Toraja 2019 bahwan pertanian merupakan sektor terbesar penyumbang PDRB di Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2018 dengan komoditas terbesar tanaman pangan adalah padi. Produktivitas 4,53 ton/ha dan luas panen sebesar 21.401 ha menghasilkan 96.935 ton.

Pemerintah berupaya keras agar masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pangan. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan dalam berbagai kesempatan masalah pangan tidak boleh lengah dan masyarakat tidak perlu khawatir akan ketersediaan pangan.

“Di masa pandemi ini, kegiatan produksi pertanian harus tetap berjalan. Dengan adanya wabah ini, pertanian makin digenjot karena masyarakat membutuhkan tambahan pangan,” tegas SYL

Baca Juga

Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi menyampaikan bahwa semua unsur sumber daya manusia pertanian harus memaksimalkan peranan dalam membantu petani mengawal dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Di tengah kesulitan ekonomi pada masa pandemi Covid-19 ini membuat 6 petani dengan total luas 6 ha di wilayah kerja Kecamatan Saluputti lebih memilih sistem tabela (tanam benih langsung) pada lahan sawahnya dibandingkan dengan tanam biasa untuk menekan biaya produksi. Pengeluaran usaha tani petani padi untuk luasan 1 ha adalah 1.680.000 yang terdiri dari biaya tenaga kerja sebanyak 15 orang. Jika dibandingan dengan biaya pada sistem tabela dengan menggunakan pipa untuk 1 ha dengan menggunakan 1 orang tenaga kerja x biaya sewa 50.000 dalam waktu 4 jam dengan total 200.000. Jadi terdapat penghematan biaya yang signifikan untuk menekan biaya tanam sebesar 200.000.

“Dalam budidaya padi 1 ha selain biaya tenaga kerja, terdapat analisis ekonomi yang terdiri dari biaya penggunaan benih, pupuk, pestisida, sewa traktor, pengangkutan dan pajak lahan,” pungkas Selfina Somalinggi, PPL/Kostratani Saluputti. (UNY/WLN8)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.