Terkini.id, Jakarta – Masyarakat sedang dirundung kegelisahan. Tak hanya soal BBM, minyak goreng langka. Bahkan Harga tahu dan tempe juga terancam naik.
Hal ini terjadi karena gejolak harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi tahu dan tempe di Indonesia.
Mendapati problematika ini, tentu diperlukan strategi dalam meningkatkan produksi kedelai lokal. Hal ini dibutuhkan kerja sama berbagai pihak.
“Sekarang adalah waktu yang tepat agar para petani dan pemerintah melakukan budi daya kedelai,” kata Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Ayep Zaki dilansir dari laman Detik pada Rabu, 16 Februari 2022.
Dalam hal ini, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk segera turun tangan mengatasi kenaikan harga kedelai demi ketenangan masyarakat maupun pada perajin tahu dan tempe.
“Tugas Kementerian Perdagangan memang seperti itu. Tidak bisa membiarkan masyarakat bertarung sendiri,” kata Rachmat Gobel dikutip dari Antara pada Senin, 14 Februari 2022.
Ayep mengatakan, kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 3 juta ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut Indonesia harus mengimpor 80% atau setara 2,4 juta ton. Jika dikonversikan dengan harga per kilogram (kg) kedelai belakangan ini Rp 10.000, artinya impor mencapai Rp 24 triliun.
Maka sudah waktunya berjibaku menghilangkan kecemasan masyarakat dengan memperbaiki sistem pengelolaan kedelai di Indonesia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
