Pilkada Makassar Tanpa Calon Perseorangan, Pengamat: Seperti Badut

Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Masika ICMI) Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan menggelar diskusi publik di Rumah Kopi Kompleks Ruko Topaz Makassar, Sabtu 4 Januari 2020

Terkini.id, Makassar – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar sudah memberikan kesempatan kepada warga yang ingin bertarung menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar mendaftar melalui jalur perseorangan. Tapi sampai batas akhir penyerahan berkas, tidak ada satu pun calon yang lolos untuk diverifikasi.

Ada apa dengan jalur perseorangan di Makassar? Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Makassar Andi Luhur Prianto mengatakan, jalur perseorangan bukan lagi jalur alternatif, setelah kandidat gagal di perebutan partai politik.

Terutama di era “begal partai” politik dan pelibatan elit politik nasional di penentuan arah dukungan partai.

Jalur perseorangan bisa menjadi cara terbaik untuk mendelegitimasi otoritas sentralistik dan watak oligarkis yang ada pada partai politik.

Setidaknya ada dua perspektif untuk menjelaskan ketiadaan Calon Walikota dan Wakil Walikota dari jalur perseorangan di Makassar.

Baca juga:

“Pertama, kerumitan teknis persyaratan, dan kedua, ketiadaan basis sosio-kultural figur non-partai,” ungkap Luhur kepada Terkini.id, Selasa 25 Februari 2020.

Persentase syarat dukungan berbasis DPT di jalur perseorangan, kata Luhur, juga bukan hal mudah. Tahap pengumpulan pernyataan dukungan di sertai foto copy KTP, verifikasi hingga pasca-verifikasi.

Kalaupun ada calon lolos verifikasi penyelenggara, tantangannya tetap sulit. Mereka akan berhadapan kandidat yang diusung partai politik, yang memiliki infrastruktur elektoral.

Figur-figur bakal calon non-partai yang bersosialisasi, umumnya bukan tokoh di ruang publik dan terlibat dalam dinamika politik kota.

Sebagian besar berlatar belakang profesional, yang berjarak dan bahkan tidak memiliki basis sosio-kultural di Makassar.

Luhur mengungkapkan, diantara tujuh peminat jalur perseorangan yang mengambil password SILON, hanya Danny Pomanto (DP) yang punya pengalaman politik yg terukur. Itupun pada akhirnya, peluang jalur ini tidak DP gunakan.

Beberapa peminat lain, tidak cukup well-prepared dan mundur teratur, bahkan sebelum sampai di tahap pencalonan.

“Motivasi mereka bermacam-macam. Umumnya mereka hanya uji popularitas. Bahkan ada yang seperti badut-badut atau untuk lucu-lucuan saja,” kata Luhur.

Komentar

Rekomendasi

Heboh Sejumlah Wisatawan Berkemah di Bukit Alas Bandawasa di Tengah Pandemi

Fotonya Heboh, Ini Klarifikasi Pria Bertato Indonesia yang Ikut Demo George Floyd

Presiden Jokowi Memaknai Hari Lahir Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19

Dipecat dan Dipenjara, Inilah Polisi yang Menindih Leher George Floyd Hingga Tewas

Terekam CCTV, Palang Pintu Jalanan di Perkampungan Mendadak Bergerak Sendiri

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar