PKI Disebut Lahir dari Sarekat Islam, Mustofa: Bidannya Siapa?

PKI Disebut Lahir dari Sarekat Islam, Mustofa: Bidannya Siapa?

R
Resty

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Kepala Hubungan Masyarakat Partai Ummat, Mustofa Naharwardaya menanggapi soal Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disebut lahir dari Sarekat Islam.

Mustofa menanggapi dengan kelakar bahwa jika PKI lahir dari Sarekat Islam, bidannya siapa?

“Hahahaha….bidannya siapa?” katanya melalui akun Twitter TofaTofa_id pada Senin, 27 September 2021.

Ditelusuri Terkini.id, artikel yang ditanggapi oleh Mustofa Naharawardaya diterbitkan oleh JPNN pada Senin, 28 September 2021 dengan judul “PKI Lahir dari Rahim Sarekat Islam”

Dalam artikel itu, awalnya diceritakan seorang pemimpin redaksi Medan Prijaji, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang mendirikan Sarekat Dagang Islamiah di Bogor, pada 1909.

Baca Juga

Nama Sarekat Dagang Islamiah itu berubah menjadi Sarekat Dagang Islam, dan tak lama berubah lagi menjadi Sarekat Islam (SI).

Singkat cerita, Kongres SI V diadakan di Yogyakarta, 2 hingga 6 Maret (versi Semaoen 1921 dan versi Lembaga Sejarah PKI 1920. Keduanya menggunakan tanggal yang sama, hanya beda tahun).

Dalam kongres itu, dua kader terkemuka SI, yakni Semaoen dan Haji Agus Salim menyusun dasar baru organisasi.

Disimpulkan bahwa kapitalisme adalah pangkal bala penjajahan di lapangan kebangsaan dan perekonomian. Dan ini harus dilawan.  

Mengusung semangat yang sebetulnya sama, yakni sama-sama melawan kapitalisme, Semaoen, Komisaris SI Daerah Jawa Tengah yang berkedudukan di Semarang, mendirikan dan terpilih menjadi Ketua PKI pada 23 Mei 1920.

Langkah Semaoen ini membuat Abdul Muis, tokoh SI Bandung berang. Dia menyoal masalah rangkap keanggotaan.

Maka, pada Kongres SI VI, 10 Oktober 1921 di Surabaya, setelah melampui perdebatan sengit, diputuskan anggota SI yang komunis dan pro-komunis keluar dari SI.

Kubu komunis tidak begitu saja menyerah. Mereka membentuk SI Merah dan mempengaruhi kongres SI 1923 di Madiun.

Saat itu, ratusan bendera merah bergambar palu arit bergantungan di dinding dan di meja podium.

“Kongres ini berjalan dalam suasana ribut dan kacau, di mana podium digulingkan,” tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah PKI (1920-1965).

Kongres ini betul-betul memisahkan PKI dan SI. Diputuskan bahwa SI berubah menjadi Partai Sarikat Islam Hindia Timur, yang kemudian hari berubah lagi menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).

Dalam perkembangan lain, berdiri pula Sarekat Rakyat (SR) yang dipimpin Aliarcham di Semarang. Organisasi ini cepat sekali berkembang dan meluas.

Pada Maret 1923, PKI dan SR menggelar konferensi di Sukabumi di mana dua hal diputuskan.

Pertama, di mana terdapat cabang SI Merah, di sana harus didirikan PKI.

Kedua, SI Merah diubah dan digabungkan kepada Sarekat Rakyat.

Paska itu, menurut Busjarie, sekira 30 hingga 35 ribu anggota SI masuk PKI.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.