Terkini.id, Jakarta — Perdana Menteri (PM) Norwegia Erna Solberg mengeluarkan pernyataan yang dikecam berbagai negara Islam, lantaran memilih tidak mempersoalkan aksi kelompok SIAN.
Seperti diketahui, kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN) mengelar aksi demonstrasi dengan merobek Alquran.
Bukannya menindak, Erna Solberg menganggap aksi perobekan Alquran tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi.
Erna mengaku tak mempermasalahkan tindakan itu dalam unjuk rasa anti-Islam yang terjadi sejak Sabtu pekan lalu.
Aksi unjuk rasa SIAN tersebut sebelumnya mendapat perlawanan dari para pendukung Islam.
- Indosat Buka Rumah Haji & Umrah, Jamaah Lebih Tenang Jelang Keberangkatan ke Tanah Suci
- Hari Hemofilia Sedunia 2026, RSUP Wahidin Tekankan Deteksi Dini dan Akses Perawatan
- "Geology of The Sulawesi Region" Diluncurkan, Ungkap Keunikan Geologi Pulau Sulawesi yang Mendunia
- Nahkodai KLH/BPLH, Menteri Jumhur: Environmental Ethics Jadi Penyelamat Bumi
- Polbangtan Kementan Terapkan Tanam Modern, 75 Hektare Digarap dengan Drone
Unjuk rasa kemudian berujung kekerasan usai seorang perempuan dari kelompok SIAN merobek Alquran. Polisi kewalahan meredam emosi massa. Polisi akhirnya menangkap sejumlah provokator.
Solberg berdalih kebebasan berekspresi dijunjung tinggi di negaranya. Ia tak bisa melarang apa yang dilakukan kelompok SIAN.
“Sangat khawatir kebebasan berekspresi yang mana kami pertahankan di Norwegia mungkin berbeda di negara lain, atau itu mungkin dipersepsikan kami tidak peduli dengan sikap SIAN, padahal kami memang peduli,” kata Solberg dilansir dari Daily Sabah, Rabu 2 September 2020.
“Saya tegaskan tak bisa diasosiasikan dengan semua yang SIAN perjuangkan. Saya pikir sungguh menyakitkan bagaimana mereka membicarakan orang yang hidup dan agama mereka di negara ini,” ujar Solberg.
Pernyataan Solberg muncul sehari setelah Turki mengecam protes SIAN. Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan sangat salah melihat rasialisme dan permusuhan terhadap Islam sebagai bagian dari kebebasan berbicara.
–
Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg menegaskan bahwa aksi unjuk rasa anti-Islam di kota Oslo pada akhir pekan kemarin merupakan bagian dari kebebasan berpendapat di negaranya. Dalam demonstrasi tersebut, seorang aktivis anti-Islam terlihat merobek beberapa halaman kita suci Alquran.
Aksi unjuk rasa digelar oleh grup bernama Stop Islamization of Norway (SIAN) di dekat gedung parlemen di kota Oslo. Keseluruhan acara berakhir usai para aktivis SIAN terlibat bentrok dengan demonstran yang marah atas perobekan Alquran.
Berbicara kepada kantor berita NTB, Senin 31 Agustus 2020, Solberg menegaskan bahwa Norwegia mengizinkan individu atau kelompok apapun untuk menyuarakan pandangannya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?Happy Inspire Confuse Sad
“Saya khawatir mengenai isu kebebasan berpendapat, yang selama ini kita bela bersama di Norwegia. Saya khawatir negara-negara lain menganggap kita tidak peduli dengan pandangan SIAN, padahal tidak demikian,” ujar Solberg.
Meski mengizinkan SIAN bersuara, Solberg menegaskan dirinya sama sekali tidak mendukung pandangan grup tersebut. “Sakit rasanya saat mendengar mereka berbicara mengenai kehidupan di negara ini, mengenai agama-agama orang di negara ini,” sebut Solberg.
Pernyataan Solberg disampaikan di hari yang sama Turki mengecam aksi demo SIAN. Kementerian Luar Negeri Turki menilai, rasisme dan kebencian terhadap Islam tidak dapat dikategorikan sebagai kebebasan berbicara.
Polisi dalam jumlah besar bersiaga di sekitar lokasi demo pada akhir pekan kemarin. Aksi protes meningkat menjadi bentrokan usai seorang perempuan merobek beberapa halaman Alquran. Tidak hanya merobek, perempuan itu juga terlihat meludahi Alquran.
Sekelompok pengunjuk rasa yang marah melihat perobekan Alquran langsung melewati perimeter polisi dan mencoba menyerang kelompok anti-Islam. Polisi bergegas mengintervensi bentrokan, yang berujung pada terlukanya satu orang dan penangkapan terhadap beberapa lainnya.
Sebelum terjadi bentrokan, unjuk rasa SIAN berlangsung relatif damai selama dua jam. Para pendukung anti-Islam menyuarakan yel-yel, bernyanyi, dan mendengarkan orasi pemimpin SIAN, Lars Thorsen. Dalam orasinya, Thorsen menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai “nabi palsu.”
===
Oslo: Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg menegaskan bahwa aksi unjuk rasa anti-Islam di kota Oslo pada akhir pekan kemarin merupakan bagian dari kebebasan berpendapat di negaranya. Dalam demonstrasi tersebut, seorang aktivis anti-Islam terlihat merobek beberapa halaman kita suci Alquran.
Aksi unjuk rasa digelar oleh grup bernama Stop Islamization of Norway (SIAN) di dekat gedung parlemen di kota Oslo. Keseluruhan acara berakhir usai para aktivis SIAN terlibat bentrok dengan demonstran yang marah atas perobekan Alquran.
Berbicara kepada kantor berita NTB, Senin 31 Agustus 2020, Solberg menegaskan bahwa Norwegia mengizinkan individu atau kelompok apapun untuk menyuarakan pandangannya.
“Saya khawatir mengenai isu kebebasan berpendapat, yang selama ini kita bela bersama di Norwegia. Saya khawatir negara-negara lain menganggap kita tidak peduli dengan pandangan SIAN, padahal tidak demikian,” ujar Solberg.
Meski mengizinkan SIAN bersuara, Solberg menegaskan dirinya sama sekali tidak mendukung pandangan grup tersebut. “Sakit rasanya saat mendengar mereka berbicara mengenai kehidupan di negara ini, mengenai agama-agama orang di negara ini,” sebut Solberg.
Pernyataan Solberg disampaikan di hari yang sama Turki mengecam aksi demo SIAN. Kementerian Luar Negeri Turki menilai, rasisme dan kebencian terhadap Islam tidak dapat dikategorikan sebagai kebebasan berbicara.
Polisi dalam jumlah besar bersiaga di sekitar lokasi demo pada akhir pekan kemarin. Aksi protes meningkat menjadi bentrokan usai seorang perempuan merobek beberapa halaman Alquran. Tidak hanya merobek, perempuan itu juga terlihat meludahi Alquran.
Sekelompok pengunjuk rasa yang marah melihat perobekan Alquran langsung melewati perimeter polisi dan mencoba menyerang kelompok anti-Islam. Polisi bergegas mengintervensi bentrokan, yang berujung pada terlukanya satu orang dan penangkapan terhadap beberapa lainnya.
Sebelum terjadi bentrokan, unjuk rasa SIAN berlangsung relatif damai selama dua jam. Para pendukung anti-Islam menyuarakan yel-yel, bernyanyi, dan mendengarkan orasi pemimpin SIAN, Lars Thorsen. Dalam orasinya, Thorsen menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai “nabi palsu.”
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
