“Renovasi belum selesai, kami membutuhkan tambahan waktu 40 hari lagi,” ujar Mahris, konsultan proyek Stadion GBH.
Molornya renovasi membuat PSM terpaksa bermain di luar Sulawesi Selatan, yang secara tidak langsung berdampak pada performa tim. Tanpa dukungan langsung dari suporter mereka, perjuangan Juku Eja menjadi lebih berat.
“Sepak bola bukan hanya soal teknik dan strategi, tapi juga soal atmosfer dan dukungan suporter. Kami kehilangan itu,” kata Tavares.
Namun, meski terus berpindah stadion, PSM tetap menunjukkan mentalitas juara. Bermain di Bali, tim asuhan Tavares tampil disiplin dan efektif.
Mereka tidak hanya menahan gempuran serangan Persija, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang yang ada.
- Hari Lahir Pancasila, Munafri-Aliyah Ajak Warga Makassar Hidupkan Nilai Kebangsaan
- Hadiri Sannipata Waisak 2026, Gubernur Andi Sudirman Apresiasi Kontribusi Permabudhi dalam Pembangunan Daerah
- Wali Kota Makassar Hadiri Syukuran HUT ke-69 Kodam XIV/Hasanuddin
- Hari Lahir Pancasila: Pondasi Perjuangan Bagi Keisha Ratu Utami Menuju Paskibraka Nasional 2026
- Gimnastik Jadi Cara Ibu Dua Anak Ini Latih Kemandirian Anak di Era Gadget dan AI
Haljeta, sang pahlawan dalam laga ini, menegaskan bahwa kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan solidaritas tim.
“Kami tidak akan berhenti di sini. Fokus kami sekarang adalah laga berikutnya melawan Madura United,” ujar striker bernomor punggung 99 itu.
Wasit dan Kontroversi Kartu Kuning
Di balik kemenangan bersejarah ini, ada catatan yang mengusik Tavares. Ia menyoroti keputusan wasit Yudi Nurcahya yang dianggap terlalu mudah mengeluarkan kartu kuning kepada pemain PSM.
“Saya tidak kasar, tidak agresif, saya tetap menghormati wasit. Jadi tolong hargai juga kami. Mudah sekali kami dapat kartu kuning,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
