Pustaka Bergerak Indonesia Sebut Minat Baca Anak Indonesia Tinggi

Terkini.id, Makassar – Founder Pustaka Bergerak Indonesia Nirwan Ahmad Arsuka menyebut kecerdasan dan minat baca anak Indonesia sesungguhnya tinggi. Sama saja dengan anak-anak cerdas lain di berbagai penjuru dunia. 

“Pandangan PBI ini memang tak sejalan dengan pandangan resmi pemerintah yang ditopang oleh berbagai statistik internasional yang meletakkan Indonesia di papan bawah dalam hal literasi,” kata Nirwan, Sabtu, 6 Januari 2021.

Nirwan menuturkan di awal 2021, terjadi dua hal yang sangat penting buat jaringan relawan dan dermawan yang selama ini bergerak mandiri berbagi pengetahuan dan bergabung dalam Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). 

Baca Juga: Tilik Problematika BPJS, KAMMI Makassar Gelar Dialog Bersama BPJS dan...

Pertama adalah diterbitkannya tulisan tim arkeologis penemu seni gua tertua di dunia di jurnal terkemuka Science Advances, 13 Januari 2021. 

Kedua adalah datangnya undangan dari dewan kurator Istanbul Biennial kepada PBI untuk ambil bagian dalam pameran internasional yang berlangsung dari 11 September hingga 14 November, 2021.  

Temuan ini, kata Nirwan, menandaskan kembali bahwa lukisan prasejarah tertua di dunia dibuat oleh orang-orang yang bergerak menjelajahi berbagai gua di Indonesia, termasuk kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.

“Tulisan tim arkeologis yang dipimpin oleh Prof. Adam Brumm, Ph.D menandaskan bahwa lukisan seni gua yang pertama kali ditemukan oleh Basran Burhan di Leang Tedongge,  Sulawesi Selatan  itu, berusia paling sedikit  45.500 tahun,” kata Nirwan.

Temuan arkeologis itu, bagi PBI memperkuat desakan untuk menyusun kebijakan pembangunan literasi yang komprehensif dan setara. 

“Dengan tuntutan untuk menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia itu bukan saja sejajar dengan anak-anak lain di berbagai penjuru dunia, mereka bahkan penerus dari generasi cerdas dan berani yang menciptakan lukisan piguratif imajinatif tertua di bumi,” ungkapnya.

Sementara, Koordinator PBI yang menuju Istanbul Bienal, Anwar Jimpe Rachman mengatakan di samping berbagai perbedaan yang menyolok, Turki dan Indonesia juga memiliki sejumlah persamaan yang sangat menarik. 

Salah satu yang menonjol adalah kekayaan arkeologis yang berharga. Situs Gobekli Tepe di Turki Tenggara, misalnya, dianggap sebagai struktur megalithik tertua di dunia.  

Sejumlah telaah menyarankan bahwa Gobekli Tepe yang berusia sekitar 12.000 tahun itu adalah monumen yang menunjukkan asal-usul agama dunia, dan bahwa hasrat untuk membangun kontak dengan kekuatan langit adalah hasrat yang melahirkan revolusi pertanian yang mengawali munculnya peradaban. 

“Jika lukisan cadas prasejarah Indonesia akan mengubah penulisan sejarah seni dan akal budi ummat manusia, maka Gobekli Tepe akan mengubah penulisan sejarah peradaban dunia,” kata Anwar Jimpe.

Menurutnya, undangan pameran dari Istanbul Bienal adalah momentum bagi relawan untuk kembali mendesakkan agenda literasi dan kebudayaan yang lebih maju, yakni agenda secara domestik berwatak kreatif-partisipatoris, dan secara internasional berwatak produktif-transformatif. 

“PBI akan mendorong sebanyak mungkin warga untuk ikut menjadi pencipta karya seni, dan menyerukan agar pemerintah semakin sungguh-sungguh untuk memfasilitasi warga terlibat saling bantu meningkatkan mutu literasi sekaligus mengukuhkan ikatan solidaritas kebangsaan,” ujarnya.

Selain itu, PBI juga akan ikut mendorong agenda perawatan situs-situs arkeologi dan berbagai kegiatan pengetahuan ilmiah, karena akan kian memperjernih pengetahuan kita tentang masa silam sekaligus memperkuat kemampuan kita ikut membentuk masa depan bersama.

“Agenda kebudayaan dan ilmu pengetahuan ini perlu diwujudkan secara bertahap, diawali dengan diskusi berseri untuk bertukar gagasan dan membangun kesepahaman,” tukasnya.

Bagikan