Ibarat rasa rindu pada seseorang yang lama dinanti kehadirannya, lalu bertemu. Kegirangan dan kegembiraan tiada tara.
Penantian yang mengharapkan adanya pertemuan, menjadikan seseorang menyiapkan diri sepenuh hati hingga pertemuan yang dinanti jadi nyata.
Demikian halnya, kehadiran bulan ramadan yang telah lama dinantikan, kini telah tiba, rindupun tertunaikan.
Sekalipun, terasa ada sesuatu yang hilang, kehadirannya tidak sesemarak tahun-tahun sebelumnya. Kali ini korona mendera, virus mematikan itu membuat ada “duka” yang menyertai kedatangan ramadan.
Tetapi justru disitulah bagian hikmah yang mesti dipetik, betapa ramadan ibarat madrasah, pendidikan utamanya adalah kesabaran.
- Saudara adalah Rumah Nyaman yang Selalu Ada, Kisah Hangat Keluarga Muchsin
- Politisi PSI Sulsel Rezki Mulfiati Lutfi Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim di Penghujung Ramadan
- Panen Padi di Desa Lasiwala, Bupati Sidrap: Berkah Ramadan
- Safari Ramadan di Panca Rijang, Bupati Sidrap Paparkan Capaian dan Program Pembangunan
- Perkuat Kepemimpinan Sekolah, 100 Kepala Sekolah Ikut Ramadan Leadership Camp
Sekalipun korona hadir lebih awal mendahului datangnya bulan suci ini, tetapi justru hadirnya ramadan di tengah pandemi itu, menjadi “teman” pelipur lara di tengah duka dibalik Covid-19.
Ramadan hadir mengajarkan kita untuk ikhlas, mendidik kita untuk sabar. Ikhlas dapat tumbuh dari kesabaran, kesabaran diraih dari kualitas keyakinan, cermin iman dan ketaqwaan.
Yakin bahwa Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar nan ikhlas. Hal ini diraih dari kualitas taqwa. ketaqwaan menjadi tujuan puasa. Puasa melahirkan pribadi yang taqwa.
Karenanya, hadirnya ramadan yang didahului korona dan mendera tanpa pasti kapan akan berakhir, sedikitpun tidak menjadikan ramadan kali ini kehilangan makna.
Justru hadirnya ramadan ini menempa kesadaran bahwa kita memiliki kekuatan, segalanya datang dari Allah, kelak segalanya akan kembali kepada-Nya. Kita tidak memiliki daya dan upaya kecuali Allah. Itulah tawakkal.
Mungkin saja korona menghadirkan kepanikan, takut berlebih. Ramadanlah hadirkan imun, menanamkan pengharapan, ar-raja.
Terbangun rasa optimis, tidaklah mungkin Allah memberi cobaan pada hamba-Nya diluar kemampuannya. Kuasa sang khaliq melingkupi seluruhnya termasuk menghilangkan pandemi korona.
Pada titik inilah, kita bermunajabat memohon kepada Allah, berdoa. Sebab, tidak ada doa yang terlalaikan oleh Allah. Allah mendengarkan dan mengabulkan doa hamba yang yakin sepenuh hati.
Mungkin saja selama ini, doa dilantunkan tidak diikuti hati melainkan seremoni. Tapi hadirnya pandemi menjadikan doa sebagai senjata, kekuatan menghadapinya, selain ikhtiar menjaga jarak hingga tidak mudik.
Ramadan hadir sebagai pelipur lara, teman sejati sehingga lahir pengharapan yang dilapazkan, semua segera berakhir. Terima kasih ya Allah, Engkau maha penyayang, Engkau hadirkan ramadan yang menjadi madrasah untuk bersabar dan kemampuan mengendalikan diri berkat iman taqwa yang terpatri dan terjaga dalam diri hamba.
Ramadan, engkau tiba di waktu yang tepat, kala musibah ini tiba. engkau datang mengajarkan kesabaran, solidaritas sosial, keterpanggilan berbagi pada sesama. Kala rindu membuncah. Ramadan tiba, rindupun tertunaikan.
Marhaban Yaa Ramadan, selamat datang bulan yang suci penuh pengampunan dan pengharapan. Berharap pandemi korona segera berakhir, penyadar atas segala keangkuhan, penghapus dosa dan meninggalkan hikmah, ibrah, pembelajaran bahwa sesungguhnya manusia benar-benar dhaif, lemah.
Virus tak tampak sekalipun, kami tak kuasa hadapi kecuali berikhtiar, berdoa dan tawakkal bahwa Allah maha kuasa segala-Nya.
Yakin, pandemi ini akan segera berakhir. Semoga !
Firdaus Muhammad (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
