Terkini.id, Jakarta – Seperti yang kita tahu, belakangan ini berbagai kritikan ramai dilayangkan pada pemerintah terkait wacana impor garam.
Banyak tokoh-tokoh publik yang menilai bahwa hal tersebut tak perlu dilakukan karena stok garam Indonesia cukup banyak.
Nah, terbaru ada Syamsul Hadi yang merupakan seorang petani garam kristal di Dusun Pelebe, Desa Ketapang Raya, Lombok Timur, yang turut angkat bicara terkait wacana tersebut.
Syamsul mengaku bahwasanya sudah tiga tahun garam miliknya tak terjual dan jumlahnya yang mencapai empat ton hingga saat ini masih berada di dua gudang, menunggu para pembeli dari pengusaha garam.
“Sekarang tidak ada yang mau beli garam. Sudah tiga kali musim kembalit (kemarau) garam ini tidak ada yang mau beli,” beber Syamsul pada hari Minggu lalu, 21 Maret 2021, dikutip terkini.id dari Kompas.
Syamsul juga menuturkan bahwasanya sebagai seorang kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya pada hasil garam, ia sangat terpukul dengan kondisinya sekarang karena belum ada satu pun orang yang pernah menawa garamnya untuk dibeli.
“Susah sekarang dengan mata pencaharian kita ini (garam). Kalau terus seperti ini, kita bisa mati,” ungkap Syamsul.
Dari pengakuannya, Syamsul Hadi biasanya menjual garam dengan harga Rp10.000 – Rp15.000 untuk ukuran satu karung yang berisi 20 kilogram.
Dulunya ia beranggapan bahwa menjadi petani garam memang sedikit memberikan harapan pada kehidupan perekonomian keluarganya, tetapi kini tidak lagi.
Ia menjelaskan bahwa banyak garam kristal berharga murah yang masuk ke daerahnya sebagai pesaing, yang kemudian memenuhi kebutuhan industri pembuatan garam halus.
“Kan di desa ini banyak juga pembuat garam halus. Bahan bakunya dari garam kasar seperti kami ini, tapi sekarang mereka beli yang luar daerah dengan harga murah,” ujar Syamsul.
Oleh karenanya, untuk bertahan hidup di tengah badai Covid-19 saat ini yang membuat segalanya semakin sulit, Syamsul hanya bisa menggantungkan hidup dengan mencari ikan dll untuk kebutuhan makan sehari-hari.
“Kami hanya bisa pasrah. Kami bertahan hidup cari ikan, udang di laut untuk makan. Kalau banyak dapat, kami jual,” pungkas Hadi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
