Sadar Acara Politik, Dubes Palestina Langsung Pergi dari Deklarasi KAMI Tanpa Pamit

Dubes Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun

Terkini.id, Jakarta – Meskipun sudah menyampaikan klarifikasi lewat sejumlah media, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun tetap menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka dan serius.

Permohonan itu dia sampaikan terkait dengan kehadirannya dalam acara deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pada 18 Agustus 2020 lalu.

Zuhair Al-Shun secara terbuka meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Permintaan maaf ini terkait kehadirannya di acara Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Dia menegaskan, kehadirannya dalam acara tersebut merupakan salah paham. Dikutip dari Liputan6.com, Dubes Zuhair menyampaikan permintaan maaf ke seluruh rakyat Indonesia, dan menegaskan dirinya sebagai wakil pemerintah Palestina tidak berniat menentang pemerintah yang sah.

“Dengan segala hormat dari saya, melalui channel Anda, melalui media Anda, kepada semua orang di Indonesia, kepada 300 juta atau lebih, kepada semuanya. Percayalah, saya minta maaf, dan saya mengucapkannya dengan kuat,” ucap Dubes Zuhair, Jumat 21 Agustus 2020 lalu.

Menarik untuk Anda:

Dia meminta maaf secara serius agar tidak ada lagi yang salah paham mengenai situasi yang ia hadapi. Ia juga telah memberi klarifikasi kepada Din Syamsuddin, selaku pengundang, bahwa ia tak mendukung gerakan KAMI.

Zuhair juga mengklarifikasi dirinya langsung pergi ketika sadar bahwa acara KAMI bersifat politis. Dubes Palestina baru sadar ketika mendapat pesan dari temannya.

“Saya mendapat pesan dari salah satu teman saya. ‘Duta Besar, ini adalah isu politik’,” kata Dubes Zuhair.

“Langsung saja saya pergi. Segera saya pergi tanpa menyapa atau pamit ke siapapun. Itu situasinya,” Dubes Zuhair menambahkan.

Zuhair awalnya duduk di barisan belakang. Kemudian, ia disuruh maju ke barisan paling depan.

“Saat saya tiba, saya disambut dan duduk di belakang selama 2 menit. Kemudian mereka membawa saya ke barisan depan. Kemudian mereka bernyanyi lagu nasional,” kata Dubes Zuhair.

Ia lantas ikut berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Ketika sedang bernyanyi, telepon Dubes Zuhair berbunyi.

Namun, Dubes Zuhair tak sempat mengangkat telepon. Setelah selesai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, ia mengecek teleponnya dan ada pesan masuk. Saat itulah ia sadar acaranya bersifat politik.

Dubes Zuhair tak ikut pembacaan deklarasi KAMI. Ia juga mengaku tidak mengetahui apa-apa soal KAMI dari media massa. Dubes Zuhair juga tak memperhatikan apakah ada slogan anti-pemerintah di acara deklarasi.

“Saya tidak melihat apapun, bahkan organisasi itu, KAMI, atau apalah itu namanya, saya tidak tahu hal ini. Saya tak tahu,” jelas Dubes Zuhair.

Seperti diketahuim sebelumnya sang Dubes sudah memberikan klarifikasi resmi. Disebutkan, dia cuma hadir selama 5 menit dan mengira deklarasi KAMI adalah acara 17 Agustus:

Klarifikasi tentang apa yang diberitakan media perihal Duta Besar Negara Palestina yang menghadiri undangan yang disampaikan oleh Bapak Din Syamsuddin, Ketua Persatuan Persahabatan Indonesia Palestina.

Kami ingin menegaskan bahwa partisipasi kami berdasarkan pada pemahaman bahwa acara tersebut adalah acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan bukan yang lainnya. Kehadiran kami di acara tersebut hanya berlangsung selama 5 menit, ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia yang itu adalah sesuatu yang sakral bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kami di Palestina mengapresiasi dukungan dan bantuan yang kami terima dari Yang Mulia Bapak Presiden Joko Widodo, pemerintahannya yang terhormat, dan dari seluruh masyarakat Indonesia yang ramah. Saya berharap semua orang mengerti bahwa kami bukan bagian dari dan tidak akan menjadi bagian dari kegiatan politik di Indonesia.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Viral Guru Minta Siswa Jangan Pilih Ketua OSIS Non Muslim

Beredar Postingan Foto Sebut Jokowi Sanggup Jadi Dokter, Ini Faktanya

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar