Saya Ingin Optimis, Saya Ingin

Terkini.id – Setahun lebih pagebluk Covid-19 telah bergerilya dari tubuh ke tubuh, namun belum ada tanda-tanda akan berhenti bertualang. 

Saya teringat sebuah negeri yang jauh bernama Incompetent. Pemerintah di negara tersebut menebar optimisme dan harapan dalam penanganan pandemi Covid-19. 

Mulai dari otak-atik kebijakan untuk menyesuaikan kemampuan mutasi Covid-19 yang juga ikut berubah-ubah. 

Baca Juga: Bangkitkan UMKM di Tengah Pandemi, Phinisi Point Helat Bazaar Food,...

Pelbagai istilah penanganan Covid-19 di negara yang makmur tersebut silih berganti. Seperti mencari pasangan hidup, atau gonta-ganti baju untuk mencari yang pas di badan.

Meski begitu, kita tak perlu berjudi untuk menebak hasil akhirnya. 

Baca Juga: Gowa Kembali Terima Bantuan Penanganan Covid-19, Kali Ini dari BPJS...

Bila mencermati secara jernih jalan masuk Covid-19 di negara tersebut, kita akan menemukan satu kenyataan pahit bahwa ia menyelinap lewat pintu optimisme.

Optimisme di saat hampir semua negara memutuskan menutup pintu terhadap negara lain. Pemerintah di negara itu dengan gagah berani justru menerobos segala kemungkinan terburuk dan hanya berorientasi pada hasil terbaik. 

Optimisme di tengah pandemi adalah membuka pintu pariwisata dan menyebar undangan di segala penjuru dunia. Optimisme mampu meraup untung di tengah krisis. Bukan buntung dan menambah utang negara.

Baca Juga: Bos BI Beberkan Resep Manjur Pemulihan Ekonomi China dan AS,...

***

Saya ingin memiliki sikap optimis dan percaya segala keburukan di muka bumi ini adalah suatu keniscayaan.

Saya ingin berlibur dan mengunjungi tempat-tempat baru yang memungkinkan sikap optimis terus bertumbuh. 

Optimisme berarti menghapus data kematian dan percaya bahwa kematian adalah urusan nasib, bukan urusan pemerintah. 

Saya ingin optimis dengan dan menutup sebelah mata agar dapat melihat lebih jernih segala kebaikan di muka bumi ini. Saya ingin optimis bahwa penanganan pandemi di negara Incompetent tak seperti di Indonesia. 

Saya ingin optimis bahwa vaksinasi di Indonesia berjalan sangat cepat. Bukan lamban seperti anak sekolah yang tinggal kelas. 

Optimisme adalah ketika terjadi angka pertumbuhan ekonomi meskipun tergopoh-gopoh menghitung kebutuhan warga yang kelaparan. Saya ingin optimis mampu tumbuh ke atas, bukan tumbuh ke samping. 

Saya ingin optimis bahwa tak ada korupsi dalam penanganan bantuan sosial di Indonesia. Hal itu hanya terjadi di negara Incompetent. Pemerintah Indonesia tak mungkin melakukan itu. Bila itu terjadi tak lebih dari kecerobohan semata. 

Saya ingin optimis bahwa tidak ada yang menyalahgunakan wewenang di tengah pandemi. Orang dihukum berdasarkan kesalahannya, bukan mencari-cari kesalahan.

Saya ingin optimis bahwa penegakan hukum tidak tebang pilih. Semua orang memiliki kedudukan yang sama. Saya ingin optimis bahwa hukuman diciptakan bukan untuk memilih penjahat. 

Saya ingin optimis dan percaya segala janji politikus yang diketik rapi di papan reklame dan baliho yang bertebaran di seantero negeri. 

Saya ingin percaya pada janji soal masa depan yang lebih baik, bukan fakta tentang penderitaan masyarakat yang serba-susah.

Saya ingin optimis dan percaya bahwa kematian bukan soal angka-angka, melainkan soal kemanusiaan. Saya ingin optimis dan membunuh segala pikiran buruk.

Saya ingin optimis dan mengabaikan banyak hal yang sering kali menciptakan perasaan ragu. Saya ingin optimis dan mendengarkan lebih banyak lelucon agar mampu meningkatkan imun.

Saya ingin optimis bahwa negara Incompetent adalah bukan Indonesia yang saat ini tengah merayakan hari kemerdekaan dan berusaha bangkit melawan krisis kesehatan dan kemanusiaan.

Bagikan