Sebut Anies Visioner, Eko Widodo: Kebijakan Sumur Resapan yang Dibully Buzzerp Kini Ditiru Gub Jateng

Terkini.id, JakartaPegiat media sosial Eko Widodo menyanjung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang disebutnya ‘Visioner’ terkait mengenai kebijakannya dalam hal sumur resapan dalam menangani pencegahan masalah banjir. 

Eko Widodo menyindir mereka yang ia sebutnya ‘Buzzerp’ yang membully kebijakan dari Anies mengenai sumur resapan, yang mana menurut Eko kini kebijakan dari Anies tersebut malah ditiru oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Hal ini Eko sampaikan di akun media sosial Twitternya @ekowboy2 seperti terlihat pada hari Rabu, 29 Juni 2022.

Baca Juga: Prabowo Maju Pilpres, Chusnul Chotimah Soroti Anies: Kemakan Omongan Sendiri!

Eko Widodo juga memposting tangkapan layar cuitan dari pegiat media sosial Eko Kuntadhi, Denny Siregar dan juga Politisi PSI (Partai Solidaritas Indonesia) Mohamad Guntur Romli yang menyindir kebijakan dari Anies mengenai sumur resapan tersebut dan artikel berita dari media Detik.com dengan judul berita ‘Cegah Banjir, Ganjar Minta Rumah di Dataran Tinggi Buat Sumur Resapan’

“Anies itu visioner, kebijakan sumur resapan yg dibully buzzerp kini ditiru Gub Jateng,” tulis Eko Widodo.

Baca Juga: Tak Sabar Tunggu Anies Baswedan Lengser Dari Jabatannya, Ferdinand Hutahaean:...

“Pendukung Ganjar kalo masih ada urat malu mestinya tutup akun, Retweet keras gaes!!,” sambungnya.

Dilansir dari Detik.com dengan judul berita  ‘Cegah Banjir, Ganjar Minta Rumah di Dataran Tinggi Buat Sumur Resapan’ yang terbit 27 Juni 2022

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal mendorong rumah di dataran tinggi memiliki satu sumur resapan. Hal itu sebagai bentuk antisipasi banjir di daerah dataran rendah.

Baca Juga: Tak Sabar Tunggu Anies Baswedan Lengser Dari Jabatannya, Ferdinand Hutahaean:...

“Untuk menangani seluruh air yang turun, jadi kalau hujan turun dan kemudian hutannya gundul dan sebagainya pasti air akan langsung turun sampai bawah,” kata Ganjar di Puri Gedeh, Semarang, Senin (27/6/2022).

Agar air tidak langsung turun ke dataran rendah, maka menurutnya perlu ada sebuah manajemen di mana air bisa cepat meresap ke tanah. Salah satunya melalui sumur resapan.

“Bagaimana menjaga air agar tidak muspro, tidak mengalir begitu saja. Maka sumur resapannya dibikin di dataran tinggi. Sebenarnya sebelum dia mengalir ditahan dulu, dan itu nanti akan berdaur dan limpahannya tidak sampai ke bawah,” jelasnya.

Ganjar sudah meminta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah untuk menyampaikan ke kabupaten/kota terkait pembuatan sumur resapan. Dia berharap tiap rumah di dataran tinggi memiliki sumur resapan.

“Kami sudah minta pada Dinas Lingkungan Hidup kita untuk sampaikan ke kabupaten/kota yang punya daerah tinggi, yuk semua buat, maka kalau kemudian secara teknis dihitung dan mana yang masuk dataran tinggi, dan di sana katakan ada kawasan perumahan dan sebagainya, kita wajibkan saja. Agar setiap rumah membuat satu saja sumur resapan di halamannya, kalau dibuat serentak bisa membantu mengelola air dengan baik,” jelas Ganjar.

Ia berharap gerakan itu bisa membantu pengelolaan air sehingga mengantisipasi banjir di kawasan dataran rendah Jawa Tengah. Saat ini, lanjut Ganjar, sumur resapan sudah ada namun memang belum banyak.

“Sudah ada tapi tidak masif, kalau satu rumah di dataran tinggi satu saja (sumur resapan), maka akan bisa berjalan. Maka ini saya minta gerakkan, butuh partisipasi masyarakat,” imbuhnya.

Sebelumnya, Dirjen SDA Kementerian PUPR, Jarot Widyoko saat rapat penanganan rob juga menyinggung soal adanya sumur resapan di dataran tinggi. Menurutnya minimal satu rumah memiliki sumur resapan dengan volume 1 meter kubik.

“Paling tidak masyarakat yang di tebing dan pegunungan, simpan air yang turun dari hujan kembalikan ke bumi, satu orang 1 m3 saja akan berpengaruh mengurangi air yang mengalir di sungai. Ada berapa juta rumah di atas,” kata Jarot usai rapat di kantor gubernur Jawa Tengah, Semarang, Kamis (2/6) lalu.

Sumur resapan itu merupakan upaya mengembalikan air tanah yang banyak dieksplorasi. Selain itu mengurangi dampak rob di kawasan pesisir karena air dari atas tidak langsung mengalir ke laut.

“Kalau masuk tanah ngalirnya pelan bisa berbulan-bulan. Kalau masuk selokan dan sungai dalam hitungan jam masuk ke laut. Kami sarankan mulai dari diri pribadi jangan salahkan orang, diri sendiri bergerak, simpan air untuk masyarakat hulu,” ujarnya.

Bagikan