Makassar Terkini
Masuk

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto: Jokowi Penuh Kelebihan Tapi SBY Banyak Rapat Tidak Ambil Keputusan

Terkini.id, Jakarta – Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berkali-kali melontarkan sindirannya kepada Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, ia tidak segan membandingkan Presiden Joko Widodo dengan SBY.

Melansir detikcom, Hasto menyebutkan, Presiden Jokowi punya kelebihan dibandingkan Presiden RI sebelumnya. Dia menyebut Presiden RI ke-6 itu terlalu banyak mengadakan rapat, namun tidak mengambil keputusan.

“Pak Jokowi punya kelebihan dibanding pemimpin yang lain. Beliau adalah sosok yang turun ke bawah, yang terus memberikan direction, mengadakan ratas (rapat kabinet terbatas) dan kemudian diambil keputusan di rapat kabinet terbatas. Berbeda dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya, terlalu banyak rapat tidak mengambil keputusan,” sebutnya dikutip terkini.id, Rabu, 27 Oktober 2021.

Ia juga menilai berbagai apresiasi sudah diberikan kepada Presiden Jokowi, dan sebagai partai pengusung pun ikut bangga bagaimana kepemimpinan Jokowi yang turun ke bawah di masyarakat, melihat akar persoalan pokok dari Covid-19 dan kemudian mencari solusi menyeluruh.

Tak terima dengan sindiran Hasto, Partai Demokrat mengingatkan PDIP untuk juga menyadari ada peran pemimpin sebelumnya.

“Menurut saya, Hasto boleh memuji pujaannya, tetapi mesti menyadari bahwa tidak ada keberhasilan saat ini tanpa peran pemimpin sebelumnya,” kata Kepala Badan Pembinaan Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan (BPOKK) DPP Demokrat Herman Khaeron.

Sementara itu, Elite Partai Demokrat Kamhar Lakumani mengatakan, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto hidup di alam mimpi saat era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena membandingkannya dengan kinerja Presiden Jokowi.

Menanggapi itu, Hasto menyebut perlu ada kajian akademis agar perbandingan kinerja antara SBY dan Jokowi menjadi objektif.

“Sebenarnya yang paling objektif kalau dilakukan kajian akademis, dengan menggunakan mixed method dari aspek kuantitatifnya bagaimana jumlah jembatan yang dibangun antara 10 tahun Pak SBY dengan Pak Jokowi saat ini saja. Jumlah pelabuhan, jalan tol, lahan-lahan pertanian untuk rakyat, bendungan-bendungan untuk rakyat, itu kan bisa dilakukan penelitian yang objektif,” kata Hasto di DPP PDI Perjuangan.

Hasto menuturkan secara kualitatif terjadi kecurangan secara masif saat Pemilu di era SBY. Dia mengatakan ada manipulasi pada data daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2009.