Serangan Bom di Somalia, 26 Tewas Termasuk Wartawan

Terkini.id, Jakarta – Bom meledak telah mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa yang terparah di Kismayo dalam beberapa tahun terakhir.

Ada 26 orang, termasuk seorang jurnalis terkemuka dan beberapa orang asing, tewas dalam sebuah serangan di sebuah hotel di Somalia selatan pada Jumat 12 Juli malam.

Pelaku pengebom bunuh diri menabrakkan mobil yang berisi bahan peledak ke hotel Asasey di Kismayo, dan orang-orang bersenjata kemudian menyerbu gedung.

Wartawan Hodan Nalayeh, 43, dan suaminya Farid termasuk di antara korban tewas.

Kelompok Islamis al-Shabab telah mengklaim di balik serangan itu, yang terburuk di Kismayo sejak mereka dipaksa keluar pada 2012.

Dilansir dari bbc.com, seorang politisi lokal, tiga warga Kenya, tiga warga Tanzania, dua warga Amerika, dan satu warga Inggris juga tewas, kata pihak berwenang.

Saat serangan tersebut terjadi, ada beberapa politisi daerah dan tokoh masyarakat berada di dalam hotel mendiskusikan pemilihan daerah yang akan datang ketika serangan dimulai.

Saksi mata mengatakan mereka mendengar ledakan besar sebelum beberapa pria bersenjata memaksa masuk.

“Ada kekacauan di dalam, saya melihat beberapa mayat dibawa dari tempat kejadian dan orang-orang melarikan diri dari bangunan di sekitarnya,” kata seorang saksi mata, Hussein Muktar, selama serangan itu.

Pihak berwenang membutuhkan waktu 12 jam untuk bisa menguasai hotel tersebut dari teroris.

Presiden regional Ahmed Mohamed menyebut jumlah korban 26 orang dengan lebih dari 50 orang terluka. Tiga penyerang tewas sementara satu orang ditangkap.

Salah satu korban adalah seorang jurnalis, Hodan Nalayeh yang mendirikan platform media Integration TV untuk menceritakan kisah-kisah tentang kehidupan di Somalia dan diaspora Somalia.

Hodan membuat liputan yang berfokus pada pengusaha perempuan Somalia dan hal-hal yang harus dilakukan di kota Las Anod.

Dia pindah ke Kanada bersama keluarganya ketika dia berusia enam tahun dan kemudian menjadi tokoh masyarakat Somalia di sana. Namun ibu dua anak ini baru saja kembali ke Somalia.

Dia pernah berbicara tentang bagaimana dia ingin diingat setelah kematiannya.

“Visi saya bukanlah untuk menjadi terkenal dan untuk menghasilkan uang. Misi saya adalah apa yang akan saya tinggalkan ketika saya mati dan untuk apa saya akan diingat,” katanya.

“Salah satunya adalah saya ingin orang-orang mengingat bahwa saya mencintai orang-orang Somalia dan ingin mereka menjadi saudara dan untuk mengingat pentingnya persatuan kita untuk negara kita.”

Beragam penghormatan diberikan ke Nalayeh, dengan wartawan BBC Farhan Jimale menyebutnya “berjiwa indah” sementara Menteri Imigrasi Kanada Ahmed Hussen mengatakan dia adalah “suara bagi banyak orang”.

Sindikat Jurnalis Somalia mengatakan bahwa Nalayeh dan reporter lain juga terbunuh di Kismayo, Mohamed Omar Sahal, adalah dua jurnalis yang dibunuh di negara itu tahun ini.

Berita Terkait
Komentar
Terkini