Terkini.id, Jakarta – Aktivis politik, Nicho Silalahi ikut mengomentari soal utang Perusahaan Listrik Negara (PLN). Terkait hal itu, ia pun menyinggung kondisi BUMN tersebut pada zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.
Nicho Silalahi lewat cuitannya di Twitter, Sabtu 13 November 2021, menyebut pada zaman pemerintahan SBY, PLN bisa untung hingga triliunan rupiah.
“Zaman Pak SBYudhoyono PLN Bisa Untung Triliunan,” cuit Nicho Silalahi.
Padahal, kata Nicho, kala itu harga Tarif Dasar Listrik (TDL) jauh lebih murah dibandingkan masa pemerintahan Presiden Jokowi saat ini.
Tak hanya itu, menurut Nicho, harga minyak dunia dan batu bara kala masa SBY tersebut jauh lebih tinggi dari sekarang. Namun, PLN masih bisa meraup untung.
- Prabowo Dapat Dukungan dari SBY dan Jokowi: Pemerintahan akan Lebih Stabil
- SBY Ungkap Rencana Pertemuannya dengan Gibran Rakabuming
- Bursa Calon Wapres, AHY Urutan Kelima di Jateng; Jauh di Bawah Erick Thohir
- Anies Baswedan Semeja dengan Para Elite Partai di Nikahan Anak Ketua Majelis Syuro PKS
- Politikus Nasdem Sebut SBY Adalah Anak Emas Amerika Serikat
“Padahal harga TDL itu jauh lebih murah dari saat ini, sedangkan harga Minyak Dunia dan Batu Bara Jauh Lebih Tinggi dari sekarang,” tuturnya.
Lebih lanjut, Nicho Silalahi juga menyebut sekitar 70 persen PLTU dari total seluruh pembangkit listrik adalah milik pemerintah. Bahkan, batu bara juga milik negara.
“± 70% kita memiliki PLTU dari total seluruh Pembangkit Listrik, padahal Batu Bara Milik Kita Sendiri,” ujar Nicho.
Dalam kicauannya itu, Nicho Silalahi juga menyertakan sebuah foto tangkapan layar artikel pemberitaan berjudul ‘Utang PLN Capai Rp 649,2 Triliun, DPR Minta Pemerintah Segera Lunasi’ yang tayang pada Mei 2021 lalu.
Mengutip Kompas, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) diketahui memiliki utang sebesar Rp 649,2 triliun berdasarkan laporan keuangan hingga akhir tahun 2020.
Jumlah tersebut terdiri dari utang jangka panjang sebesar Rp 499,58 triliun dan utang jangka pendek Rp 149,65 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan PLN, utang jangka panjang PLN didominasi oleh obligasi dan sukuk sebesar Rp 192,8 triliun, utang bank sebesar Rp 154,48 triliun, utang imbalan kerja Rp 54,6 triliun, liabilitas pajak tangguhan Rp 31,7 triliun, dan penerusan pinjaman Rp 35,61 triliun.
Kemudian, ada pendapatan ditangguhkan Rp 5,6 triliun, utang sewa Rp 14 triliun, utang kepada pemerintah dan lembaga keuangan non bank Rp 3,6 triliun, utang listrik swasta Rp 6 triliun, utang KIK-EBA Rp 655 miliar, utang pihak berelasi Rp 9,4 miliar, dan utang lain-lain Rp 182 miliar.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
