Suara Dentuman Misterius Kagetkan Warga Bekasi, Ternyata Sumbernya dari Sini

Terkini.id, Jakarta – Dentuman keras terdengar di wilayah Bekasi hingga Depok, Jawa Barat.

 

Sejumlah netizen berpendapat dentuman itu berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau. Seorang warga, Aris (33) mengaku mendengar suara dentuman yang diperkirakan berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau hingga pukul 02.00 WIB.

Baca Juga: Suara Dentuman Keras Hebohkan Warga, Diduga Terdengar dari Bawah Tanah

 

“Letusan Gunung Anak Krakatau jelas banget suaranya ini sampai Depok,” kata Aris dikutip dari suaracom, Sabtu 11 April 2020.

Baca Juga: Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau, KRI Spica 934 Investigasi Selat...

 

Bahkan sebelumnya, warganet juga ramai membahas suara dentuman di media sosial yang mereka duga ada hubungannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut.

 

Baca Juga: Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau, KRI Spica 934 Investigasi Selat...

“Suara erupsi Gunung Anak Krakatau kedengeran sampai Tanah Kusir,” kata sutradara film Joko Anwar melalui akun twitternya.

 

Terkait dentuman tersebut, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) menyebut suara dentuman yang ramai dibahas di media sosial bukan berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

 

Kepala PVMBG, Hendra Gunawan menyebut dari laporan terakhir dari penjaga pos dekat Gunung Anak Krakatau tidak ada laporan suara dentuman.

 

“Dari laporan pos yang dekat Gunung Anak Krakatau itu bahwa tidak ada yang melaporkan adanya suara dentuman,” terang Hendra saat dikonfirmasi.

 

Menurut Hendra, bahwa memang terjadi hujan lebat sejak semalam. Untuk laporan yang diterimanya hanya berasal dari suara petir.

 

“Ya, hanya laporan dari pos berada di Gunung Gede di Puncak dan Gunung Salak di Bogor. Mendengar suara (dentuman) tapi suara dentuman petir itu. Karena memang hujan petir yah,” ujar Hendra.

 

Hendra menyebut bahwa data yang dimiliki lembaganya, memang suara dentuman berasal dari suara petir.

 

“Karena kita tidak bisa bilang lebih yah. Karena data yang kami punya cuma itu (suara petir). Kami tidak bisa berfikir logika-logika, karena data informasi saja,” tutup Hendra.

Bagikan