Terkini.id, Jakarta – Pendakwah kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengaku tak menolak menjadi orang yang pertama divaksin COVID-19 asalkan vaksin tersebut juga dipakai di Arab Saudi dan Mesir.
Hal itu diutarakan UAS lewat sebuah video yang diunggah pengguna Twitter Riu The Voice Of Commoners yang kemudian dibagikan ulang oleh politisi Ferdinand Hutahaean.
Dilihat dari tayangan video tersebut, Minggu 20 Desember 2020, tampak UAS yang mengenakan baju koko putih dan peci hitam mengatakan bahwa dirinya tak menolak untuk menjadi orang yang pertama divaksin.
Ia bersedia divaksin pertama asalkan Arab Saudi dan Mesir juga memakai vaksin itu.
“Kalau vaksin itu nanti dipakai oleh seluruh dunia, Saudi Arabia memakai, Mesir memakai, maka saya yang pertama kali suntik vaksin itu,” ujar Ustadz Abdul Somad dalam video itu.
- Tim Pegasus Polres Jeneponto Ringkus 3 Warga Ka'nea Terkait Kasus Pengeroyokan
- Satresnarkoba Polres Jeneponto Ungkap Penyalahgunaan Sabu, Tiga Pelaku Ditangkap, Diantaranya Oknum Kades
- Wali Kota Makassar Munafri Lantik 153 Imam Kelurahan, Akan Dapat Insentif dan Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
- Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Anggota DPRD Makassar Hj Umiyati Soroti Pentingnya PSU
- Poltekpar Makassar Dorong Pengembangan Desa Wisata Sanrobone Lewat Project Based Learning 2026
Namun, apabila Arab Saudi dan Mesir tidak memakai vaksin itu dan hanya Indonesia yang pakai, maka dengan tegas ia menolak.
“Tapi kalau Saudi Arabia tidak (memakai), Mesir tidak, Indonesia saja, saya menolak vaksin itu,” tegasnya.
Ia pun mengungkapkan alasannya terkait hal itu. Menurut UAS, dirinya berpatokan dengan Arab Saudi dan Mesir lantaran kedua negara Islam tersebut merupakan tempatnya menimba ilmu agama.
“Kenapa patokan saya Saudi Arabia dan Mesir? Karena Mesir tempat saya belajar, di sana kumpul ulama-ulama. Jadi saya ikut fatwa guru-guru kami di Al-Azhar,” ungkapnya.
Adapun jika nantinya vaksin itu dipakai oleh kedua negara tersebut, kata Abdul Somad, maka ia yang akan langsung mengajak masyarakat untuk ikut divaksin.
“Jika nanti vaksin itu sudah dipakai di Mesir, maka saya yang akan mengajak masyarakat,” tuturnya.
Tapi, kata UAS, jika kedua negara itu tidak memakai vaksin tersebut maka dirinya menolak untuk divaksin pertama.
“Tapi kalau di Mesir tidak dipakai, di Saudi Arabia tidak dipakai, hanya kita jadi bahan kelinci percobaan, saya yang menolak pertama disuntik vaksin itu,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
