Taufik dan Nurul, Mahasiswa Polbangtan Gowa Sabet Peringkat Pertama dan Kedua pada Lomba Esai Tingkat Nasional 2020

Taufik dan Nurul, Mahasiswa Polbangtan Gowa Juara Lomba Esai
Taufik dan Nurul, Mahasiswa Polbangtan Gowa Juara Lomba Esai

Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa  mendulang prestasi dalam Lomba Esai Tingkat Nasional “Essay Competition 2020” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) peternakan Politeknik Negeri Lampung. Adalah Taufik Hidayat dan Syarifah Nurul Waqiah yang berhasil menyabet juara pertama dan kedua dalam ajang ini.

Taufik mengusung ide penelitian yang berjudul “SPB (Stiker Pendeteksi Berahi) pada ternak sapi sebagai alternatif solusi meningkatkan daya saing peternakan di Era new normal”. SPB ini nantinya akan memudahkan para peternak mengetahui apakah sapi yang dimiliki siap untuk dikawinkan ataupun diinseminasi. 

“Tujuan saya mengikuti kegiatan ini tidak lain untuk mengasa kemampuan serta menerapkan langsung materi yang saya dapatkan di kampus dengan mengikuti kegiatan lomba bertaraf nasional. Dan alasan lain saya ingin memperkenalkan kampus polbangtan gowa ke seluruh universitas yang ada di indonesia bahwa mahasiswa/i polbangtan gowa juga bisa bersaing dengan kampus lain” ucap Taufik.

Adapun persiapan yang dilakukan Taufik untuk mengikuti lomba selama satu bulan untuk mempersiapkan penyusunan naskah esai, power point dan pengiriman berkas dan registrasi. Setelah itu penilaian naskah essay dilakukan selama satu minggu. Finalis yang dinyatakan lolos sebanyak 5 peserta dan kemudian masing-masing mempresentasekan essaynya dihadapan juri. Finalis diminta untuk membuat video guna mempresentasikan gagasan selama 10 menit. Selanjutnya, mereka diminta untuk mempresentasikan gagasannya selama 5 menit dan melakukan tanya jawab dengan juri. Durasi waktu yang diberikan yaitu 10 menit yang dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting pada Senin (16/11/2020) lalu.

Setelah melalui semua tahapan lomba menurut para juri presentase Taufik unggul disbanding seluruh finalis yang menghantarkannya menjadi juara pertama. Atas kemenangan tersebut, Taufik mendapatkan uang tunai dan e-sertifikat. Taufik mengaku senang bisa memenangkan lomba ini. 

Menarik untuk Anda:

“Lomba essay dilakukan secara online (via virtual zoom) walaupun acara dilakukan secara online namun semangat saya untuk mengikuti kegiatan ini tidak pudar. Online maupun offline sama saja. Kegiatan lomba essay ini di ikuti oleh mahasiswa/i hebat dengan antusias yang luar biasa. Pada saat persentasi saya kepikiran terus untuk menampilkan yang terbaik untuk kampus Polbangtan Gowa. Dan  semangat, doa orang tua, teman-teman,  masyarakat Polbangtan Gowa serta antusias saya menuaikan hal positif dimana bisa mendapatkan juara 1 lomba essay nasional” ungkap Taufik.

“Terima kasih saya sampaikan kepada Pak direktur Dr. Syaifuddin, wakil direktur 1, wakil direktur 2, wakil direktur 3, seluruh Dosen, PLP serta masyarakat polbangtan gowa lainnya. Saya tidak bisa seperti ini tanpa dukungan moral dari bapak/ibu serta teman-teman sekalian. Dan terkhusus saya ucapkan terima kasih banyak buat ibu pratiwi hamzah, S.Si, M. Biotech selaku pembimbing saya dalam penulisan essay ini” tambahnya Taufik 

“Dan buat teman-teman jangan jadikan covid-19 untuk bermalas-malasan dalam berkarya. Perubahan tidak akan datang jika anda menunggu orang lain atau waktu lain, diri anda sendirilah yang membuat perubahan yang selama ini di cari (Barrack obama), mulai dari hal kecil menuju perubahan yang lebih besar” tutup Taufik.

Kedepannya, Taufik dan Syafirah berharap, melalui kompetisi ini dapat meningkatkan daya saing antar personal, memicu kreativitas dan membangkitkan semangat dalam hal ilmiah.

Ditempat terpisah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan perguruan tinggi diminta agar bisa mencetak mahasiswa yang tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja. Karena itu, mahasiswa perlu diarahkan untuk berinovasi melalui riset dan berani membangun usaha rintisan.

Para mahasiswa amat diharapkan dapat mengembangkan riset yang tidak sekadar untuk memenuhi kewajiban kelulusan. Mahasiswa perlu mengubah paradigma tentang riset menjadi peluang untuk mengembangkan diri melalui inovasi.

“Inovasi inilah diharapkan dapat menjadi sebuah usaha bisnis baru yang siap bersaing di pasar. Pemerintah menyiapkan insentif untuk inovasi yang mumpuni” ujar Syahrul.

“Laporan World Economic Forum untuk pilar inovasi, Indonesia masih di peringkat ke-31 dari total 130 lebih negara dunia. Itu masih harus ditingkatkan dan kuncinya perguruan tinggi harus bisa melahirkan mahasiswa inovatif dan juga mendorong dosen untuk berinovasi,” tutupnya.

Senada dengan pernyataan kepala BPPSDMP Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, menurutnya, geliat inovasi di perguruan tinggi Tanah Air masih perlu dioptimalkan. Generasi muda di era Revolusi Industri 4.0 saat ini dituntut untuk kreatif dan menghasilkan inovasi-inovasi. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi tidak banyak bergantung sebagai pencari kerja tapi bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

“Kami mendorong para dosen dan mahasiswa agar terbuka dalam riset, mengembangkan barang dan jasa sehingga bisa diserap pasar. Sehingga riset tidak hanya menjadi kredit poin untuk kelulusan atau naik jabatan, tapi juga bisa menghasilkan koin (uang),” ujar Dedi.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Tetap Patuhi Protokol Kesehatan, BEM Unsa Makassar Gelar Bazar Penggalangan Dana Mubes

Komitmen Cegah Korupsi dan Tingkatkan Transparansi Kementerian Pertanian

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar