Masuk

Ternyata Cak Imin, Zulkifli Hasan dan Airlangga Itu Kerbau Luhut Dalam Operasi Kudeta Konstitusi Penundaan Pemilu, Ini Kata Rizal Ramli

Komentar

Terkini.id, Jakarta- Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli mengungkapan operasi politik Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan yang menyinggung tiga nama ketua umum partai. 

Rizal Ramli mengungkapkan bahwa operasi politik Menko Marves Luhut menggunakan orang-orang bermasalah. Hal tersebut diungkapkan Rizal di kanal Youtube detikcom dalam acara Adu Perspektif pada Rabu 27 April 2022. 

“Nah, saya tahu cara kerja Luhut Pandjaitan, selalu cari orang bermasalah untuk dibikin bagian dari operasi itu,” ungkap Rizal Ramli. 

Baca Juga: Menteri Perdagangan Sebut Harga Kebutuhan Pokok di Sulsel di Bawah Rata-rata Nasional

Rizal mengungkapkan istilah yang dipakai Luhut untuk orang-orang bermasalah tersebut dengan sebutan kerbau. Tujuan Luhut menggunakan mereka, kata Rizal, supaya dapat diperintah.

“Istilah dia sama saya, dia pernah ngomong sama saya, ‘Zal lu itu politiknya hitam-putih, kita itu perlu politik supaya kita, orang bermasalah kita pasangin tali di hidungnya kayak kerbau, supaya bisa diperintahkan kiri kanan’,” sambung Rizal.

Adapun orang-orang bermasalah yang disebut Rizal Ramli merupakan tiga nama besar ketua umum partai, yaitu Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan dan Airlangga Hartarto. 

Baca Juga: Puan Maharani Akan Temui PAN Bahas Pemilu Berkualitas

“Nah, operasi politik itu menggunakan orang-orang bermasalah secara hukum, yaitu pasien rawat luar dari KPK. Namanya Muhaimin Iskandar, Zul (Zulkifli Hasan), namanya Airlangga Hartarto, tiga-tiganya punya masalah hukum. Jadi mereka gampang diarahkan supaya dukung kudeta konstitusi ini,” sebut Rizal.

Sebelumnya, Rizal Ramli menceritakan Luhut berusaha menjadikan mantan Ketua DPR RI Setya Novanto menjadi ketua umum Partai Golkar. Bahkan dia pun sempat diminta untuk melobi Jokowi. 

“Inilah modus operasi daripada temannya Luhut Pandjaitan waktu itu dia ngotot agar supaya Jokowi pilih (Setya) Novanto jadi Ketua Umum Golkar. Kalau saya masih dalam (Istana), biasanya Jokowi nanya sama saya, ‘Mas Rizal ini gimana ini?’. Saya bilang, ‘Jangan, Mas, Novanto itu banyak masalah, nanti kita sibuk ngurusin limbahnya saja’,” tegas Rizal.

“Akhirnya Bang Luhut ngajak saya makan siang, ‘Zal, lu bantuin dong, karena Jokowi pasti nanya sama lu nih soal begini’, ‘Bantuin apa?’, ‘Lu bantu dong lobi Jokowi supaya dukung Novanto sebagai Ketua Umum Golkar’. Saya bilang ‘Gue kagak mau’, dia bilang, ‘Lu Zal, politik lu hitam-putih, kita itu perlu orang bermasalah supaya kaya kerbau, dipegang hidungnya’,” sambung Rizal. 

Baca Juga: Tahun 2023, Airlangga Pastikan Kartu Prakerja Lanjut dan Anggaran Ditambah

Rizal pun mengatakan, dirinya sempat meminta kepada Luhut untuk mengakui aktor utama operasi politik penundaan pemilu adalah dirinya. Namun, Luhut tidak berani mengaku soal operasi tersebut. 

“Ternyata kemudian kan, pada tekan publik, reaksi publik luar biasa, akhirnya pada ngaku, yang nyuruh itu teman kita Bang Luhut. Nah tapi Bang Luhut nggak berani, harusnya kan gentlemen dong, katanya gagah berani, ya ngakulah memang aku otaknya gitu, malah ngeles,” imbuhnya.